Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Siti dan Tongkat Kayu Kawan Setianya, Ibu Penjahit Asal Tanggul Jember Ini Akhirnya Dapat Kaki Palsu

Maulana RJ • Selasa, 9 September 2025 | 14:15 WIB
SENYUM BARU: Nur Siti (kiri) warga Desa Darungan Kecamatan Tanggul, menerima program kaki palsu, melalui program Guse Peduli Kesehatan, di RSD dr Soebandi Jember, Jumat (5/9).
SENYUM BARU: Nur Siti (kiri) warga Desa Darungan Kecamatan Tanggul, menerima program kaki palsu, melalui program Guse Peduli Kesehatan, di RSD dr Soebandi Jember, Jumat (5/9).

Radar Jember - Terlahir dengan keterbatasan fisik, membuat hidupnya harus berkawan dengan sebuah tongkat.

Setelah bertahun-tahun memikul beban yang tak kasat mata itu, sang Khalik akhirnya memberinya jalan baru.

Tongkat kayu lusuh itu tak sedikitpun lepas dari genggamannya.

Tak terhitung berapa lama tongkat itu telah menopang tubuh Nur Siti.

Warnanya yang telah memudar menjadi kuning kecoklatan, menjadi tanda tongkat kayu seukuran sekitar satu meter itu bukan sekedar alat bantu, namun menjadi kawan.

Menopang keterbatasan pada kaki kirinya, sekaligus saksi bisu perjuangannya mengarungi hidup selama ini.

Nur Siti, begitu ia akrab disapa.

Perempuan asal Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Jember, ini terlahir dengan keterbatasan fisik pada kaki sebelah kirinya yang buntung, hanya sampai lutut.

Bertahun-tahun Siti ditopang alat bantu itu.

Bahkan pada masa balitanya, saat anak-anak seusianya kebanyakan belajar merangkak dan berjalan, Siti belajar menggunakan tongkat.

"Sejak kecil, saya belajar jalan pake tongkat seperti ini," katanya, kepada Jawa Pos Radar Jember, saat ditemui Jumat (5/9), sambil menunjukkan tongkat lusuh yang di genggamannya erat-erat.

Baca Juga: Agar Siswa Tak Bosan, Dapur MBG Branjangan Jember Ubah Menu Setiap Hari Lengkap dengan Buah dan Susu

Siti masih ingat betul, bagaimana setiap detik memori ingatan masa kecilnya, hingga remaja, berangkat sekolah hingga dewasa.

semua ia lalui dengan kawan setianya itu: tongkat.

Pernah, saudara-saudaranya merasa iba dan patungan membelikan Siti tongkat yang lebih bagus.

Namun karena sudah terlalu sering dipakai, tongkat itu telah lama rusak.

Ia belum sempat membeli baru.

Bukan karena tidak mau, namun karena tidak mampu.

"Saya tidak punya biaya," akunya.

Ibu satu anak ini memiliki mimpi sederhana, menjadi penjahit profesional.

Keahliannya ini didapatkan setelah menamatkan sekolah SMA/SMK dengan keahlian menjahit.

Harapan itu sempat redup.

Di rumahnya, Siti berulang kali didatangi petugas.

Entah apa tujuannya, yang jelas setiap dikunjungi itu, Siti selalu dimintai fotokopi Kartu Keluarga (KK) identitas diri berupa KTP.

Rutinitas bolak-balik memfotokopi KTP dan KK ini menjadi beban yang tak pernah berbuah hasil.

Ia merasa diiming-imingi.

"Sejak dulu, sudah sering saya didata, saya sampai capek diminta memfotokopi KK dan KTP," kenangnya.

Kepahitan itu sempat membuat Siti frustrasi.

Harapannya membuka usaha jahit sempat meredup.

Di tengah ketidakpastian itu, Siti iseng-iseng menyampaikan kisahnya ke Wadul Guse.

Sebuah kanal aduan besutan Bupati Jember Muhammad Fawait, yang dikhususkan untuk warga Jember.

Titik balik itu akhirnya datang pada Juli 2025.

Nestapa yang dialami Siti akhirnya terdengar oleh pendapa orang nomor satu di Jember ini.

"Awalnya iseng-iseng kan, menyampaikan keluhan di Wadul Guse, ternyata direspons," katanya, mengisahkan.

Sekitar akhir Juli kemarin, sejumlah petugas dari Kecamatan Tanggul mendatangi rumahnya.

Siti diminta menyiapkan berkas.

Dia lalu dijadwalkan untuk datang ke RSD dr Soebandi, Patrang, Jember, pada Jumat, 5 September 2025.

Di rumah sakit pelat merah itu, ia datang dengan langkah yang penuh harap.

Di sana, ia disambut kejutan, nama Siti menjadi salah satu dari 42 penyandang disabilitas yang akan mendapatkan fasilitas pembuatan kaki palsu.

Program kolaborasi Pemkab Jember dengan berbagai NGO bertajuk "Guse Peduli Kesehatan" ini menghidupkan kembali asa yang sempat redup.

Termasuk harapan Siti.

Mata Siti berkaca-kaca. Air mata kebahagiaannya tak dapat ia bendung.

"Saya senang sekali, Alhamdulillah, akhirnya bisa dibuatkan kaki palsu," akunya, sambil menyeka air matanya menggunakan jilbab.

Proses pengukuran pun dimulai.

Didampingi keluarganya, ia dilayani dengan ramah oleh petugas.

Setiap sentuhan, setiap detail yang diperhatikan, terasa seperti mengukir kembali harapan di hatinya.

Replika kaki barunya perlahan terbentuk.

Ketika ia beranjak dari ruang pengukuran, langkahnya terasa lebih kuat, seolah ada secercah harapan yang kembali menyala.

Sedianya kaki tiruan yang dibuat secara custom itu akan segera selesai dalam waktu dekat.

Dengan kaki baru ini, Siti percaya hidupnya akan berubah.

Impian membuka usaha jahit baju kini terasa nyata.

Demi membantu perekonomian keluarga yang hidup serba pas-pasan.

Ia tidak hanya berharap untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk suami dan anaknya, serta sang ayah yang lumpuh dan kini harus ia rawat.

"Suami ada di rumah, saya juga merawat bapak selama ini yang lumpuh, semoga nanti saya bisa bekerja lebih baik lagi," jelasnya. (mau/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh