Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Guru Inspiratif datang Dari Dusun Pelosok Jember, Mengukir Mimpi Anak Bandealit

Maulana RJ • Sabtu, 6 September 2025 | 12:55 WIB

 

INSPIRATIF: Siti Sofiatul Munawaroh, guru di SDN Andongrejo 3, Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember, Sabtu (16/8) lalu. (MAULANA/RJ)
INSPIRATIF: Siti Sofiatul Munawaroh, guru di SDN Andongrejo 3, Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember, Sabtu (16/8) lalu. (MAULANA/RJ)

BANDEALIT, Radar Jember - Tugas mulia seorang guru seringkali dihadapkan dengan berbagai ujian. Mereka yang telah memilih mendedikasikan hidupnya demi mencerdaskan anak-anak, tidak semua dari kalangan mapan.

Ada pula yang ekonominya serba pas-pasan.

Salah satunya seperti Siti Sofiatul Munawaroh, ini. Dia merupakan guru honorer di SDN Andongrejo 3, Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember.

Sofi, begitu dia akrab disapa. Perempuan berusia 29 tahun ini telah mantap memutuskan menjadi guru sejak ia menamatkan jenjang S1, tahun 2022 lalu. Tepatnya di Fakultas Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jember.

Sejak menamatkan kuliahnya, Sofi langsung memilih mengajar di sekolah yang berlokasi di tengah hutan Tanaman Nasional Meru Betiri (TNMB) itu. Bukan tanpa alasan.

Bagi dia, mengajar anak-anak desa di lingkungan tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat kota Jember ini murni urusan kemanusiaan.

Sofi merasa terpanggil untuk membukakan jalan anak-anak desanya bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti dirinya.

Mengingat, hanya segelintir warga Bandealit yang bisa sekolah tinggi, bahkan lanjut kuliah. Kendatipun ada, mayoritas memilih jurusan yang lebih menjanjikan dan setelah lulus langsung merantau.

"Sedikit sekali yang kuliah, kalaupun ada, saat lulus langsung keluar (dari Bandealit), merantau, yang jurusan perbankan misalnya," kata Sofi, kepada Jawa Pos Radar Jember, saat ditemui di sekolah itu, Sabtu (16/8) lalu.

Di sekolah, Sofi menjadi satu-satunya guru honorer. Sudah tentu gajinya tak seberapa. Ia mengajar anak-anak Bandealit bersama beberapa guru lainnya yang sudah berstatus PPPK.

Meski berada di satu Dusun Bandealit, namun jarak rumah Sofi ke sekolah cukup menguji nyali.

Lokasi sekolah berada di sekitar Bandealit area perkebunan. Sementara rumah Sofi, berada dekat pesisir Bandealit.

Jalur terjal dan bebatuan menuju sekolah, sudah menjadi makanan sehari-harinya. Menggunakan sepeda motor. 

"Jaraknya dekat sebenarnya, sekitar 3-4 kilometer, tapi kalau sepedaan lama, bisa memakan waktu 25 menitan, karena geronjal-geronjal itu," katanya, diselingi canda.

Seperti halnya warga Bandealit lainnya, Sofi bukan warga dengan latar belakang mapan. Suaminya adalah nelayan di Pantai Bandealit yang pulangnya tidak tentu setiap hari. Bisa dua atau tiga hari sekali.

Di rumah, ia tinggal bersama nenek dan buah hatinya. Saat mengajar, ia merelakan si bungsu untuk dititipkan.

"Kalau saya ngajar, si kecil dititipkan ke mbah di rumah," imbuh ibu satu anak ini.

Motivasinya yang kuat untuk mengantarkan anak-anak desanya mengukir mimpi, menjadi salah satu faktor yang menyemangati Sofi selama ini.

Meski dengan penghasilan yang tidak seberapa, ia tetap tegar dan bertahan.

Baginya, melihat anak-anak di desanya tumbuh dengan mengenyam pendidikan itu sebuah kemewahan.

Terlebih, paradigma masyarakat di pedalaman hutan, pelosok, dan pinggir pantai, acapkali menilai pendidikan sekedarnya.

Hal itu dirasa mengusik hati Sofi. 

"Orang desa biasanya berfikir, yang penting gimana lulus SD, SMP, lalu kerja, sudah. Karena itu, saya kepengen anak-anak di desa saya juga bisa mengenyam pendidikan layak. Syukur-syukur nanti besarnya bisa memajukan warga sini (Bandelit) yang katanya punya banyak potensi," harapnya.

Kini, sebagian akses menuju Bandealit telah aspal. Menyisakan sekitar 4 kilometer menuju perkampungan, dan sekitar 3 kilometer menuju Pantai Bandealit.

Jaringan listrik PLN sudah mulai masuk per 16 Agustus 2025 kemarin, setelah belasan tahun lamanya warga menggunakan pencahayaan bertenaga panel surya.

"Saya dan mungkin harapan semua warga Bandealit, ke depan bisa semakin baik, dan maju. Memajukan Bandealit, termasuk memajukan pendidikan anak-anak di sini," kata Sofi, menyudahi obrolan, dengan mata berkaca-kaca. (mau/nur)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #Guru #pelosok