Radar Jember - Aksi demonstrasi ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jember semakin memanas.
Setelah melakukan long march dari gedung DPRD, massa akhirnya berhasil memasuki halaman Polres Jember, Sabtu (30/8).
Mereka langsung menyuarakan tuntutan dengan membakar ban sebagai simbol perlawanan.
Asap hitam mengepul di tengah halaman Polres, mengiringi lantunan orasi keras dari para mahasiswa.
“Keadilan untuk Affan! Reformasi Polri sekarang juga!” teriak mereka bergantian.
Suasana aksi kian dramatis ketika mahasiswa membacakan puisi bertema duka dan ketidakadilan di atas panggung orasi dadakan.
Tidak berhenti di situ, mereka juga menampilkan teatrikal yang menggambarkan tragedi tewasnya driver ojek online, Affan Kurniawan.
Sejumlah mahasiswa merebahkan diri di tanah dengan tubuh dibalut kain putih, sementara lainnya berperan sebagai aparat yang membawa pentungan.
Perwakilan Aliansi BEM se-Jember, Alfin Maulana menegaskan, simbol-simbol aksi tersebut adalah peringatan keras bagi institusi kepolisian.
“Bakar ban adalah tanda bahwa semangat kami tidak akan padam. Puisi dan teatrikal adalah suara rakyat yang selama ini dibungkam,” ujarnya.
Alfin yang juga aktivis PMII UIN KHAS Jember dan mantan Presiden Mahasiswa UIN KHAS Jember itu menegaskan, aksi mahasiswa bukan sekadar emosional, melainkan wujud kepedulian terhadap masa depan bangsa.
“Kami hadir dengan kesadaran penuh bahwa Polri harus direformasi total agar kembali sesuai tugas dan fungsinya,” tegasnya.
Dalam aksi itu, mereka kembali menegaskan lima poin tuntutan. Mulai dari pencopotan Kapolri dan Kapolda Metro Jaya, penindakan hukum transparan bagi pelaku sesuai Pasal 338 RKUHP, pencabutan jabatan delapan oknum yang terlibat, reformasi menyeluruh di tubuh Polri, hingga kecaman terhadap tindakan represif aparat. (dhi)
Editor : M. Ainul Budi