Radar Jember - Kasus kematian Febrian Arisandi yang ditemukan tergantung di mes karyawan PT Sungai Budi terus bergulir.
Meski belum ada kepastian dari polisi, sejumlah kejanggalan membuat keluarga meyakini korban bukan bunuh diri, melainkan dibunuh.
Ayah korban, Kuswandi, menuturkan, biasanya ketika sedang dalam masalah atau stres, Febrian akan tampak murung, lebih banyak diam, dan lesu.
Namun, beberapa hari sebelum kepergiannya, tak terlihat tanda-tanda itu.
“Anaknya biasa saja, tidak seperti ada masalah. Kalau ada masalah itu biasanya kelihatan,” paparnya.
Kuswandi melanjutkan, bahkan malam sebelum ditemukan meninggal (21/8), korban masih sempat melakukan video call bersama keluarga.
Dalam panggilan itu, tak ada obrolan serius.
Febrian justru bercanda tanpa menunjukkan beban.
“Malam itu masih ketawa-ketawa waktu VC. Itu VC karena anaknya nggak boleh pulang, disuruh nginap di kantor,” tuturnya.
Sementara itu, ibu korban, Sumarni, mengungkap fakta lain.
Selama dua hari, anaknya tidak diizinkan pulang.
Febrian selalu meminta dibawakan makanan dan baju ganti.
Menurutnya, hal itu tidak masuk akal jika dikaitkan dengan niat bunuh diri.
“Saya sedih waktu mengantarkan makanan dan baju ke mes. Itu mes dipakai gudang, sangat tidak layak untuk tidur. Kalau memang tidak boleh pulang, seharusnya diberi tempat dan makan yang layak,” terangnya.
Lebih jauh, Sumarni menuturkan, dirinya bersama suaminya, Kuswandi, serta anaknya, Firman, juga bekerja di PT Sungai Budi.
Menurut mereka, selama ini tidak ada budaya hukuman keras di perusahaan.
“Sebelumnya tidak ada kekerasan di perusahaan. Malah bosnya sudah bilang mau mengakui kesalahannya soal hilangnya tepung Rose Brand. Seharusnya sudah tidak ada masalah. Saya tidak tahu kenapa Febrian harus jadi korban,” tambahnya.
Kakak korban, Firman, juga merasakan kejanggalan.
Sebab, ia dan Febrian sudah merencanakan pesta ulang tahun untuk adik bungsu mereka.
“Nggak mungkin kalau mau bunuh diri. Orang dia pengen ngerayain ulang tahunnya adek kok, sudah janjian sama saya,” tandasnya.
Siti Nur Aini, tunangan korban, juga mengungkap cerita lain.
Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal, Febrian sempat curhat ingin resign dari perusahaan setelah masalah hilangnya tepung selesai.
“Akhir-akhir ini dia cerita sedang ada masalah, kalau tidak salah dengan atasannya. Jadi, setelah masalah selesai mau keluar katanya. Malam Jumat itu kami sempat VC, ya, biasa saja. Dia nggak bilang pamit atau semacamnya,” ungkap Aini.
Kesaksian keluarga sejalan dengan yang diungkap staf administrasi PT Sungai Budi, Feny.
Ia mengatakan, malam sebelum ditemukan meninggal, Febrian masih bercanda dengan beberapa karyawan.
“Malamnya masih ketawa-ketawa, makanya saya juga kaget,” paparnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, memang tidak ditemukan bukti persiapan bunuh diri yang dilakukan Febrian.
Tali yang digunakan untuk menggantung diri sama persis dengan tali jemuran yang ada di belakang kamar mes.
Baca Juga: Penyidikan Kasus Sosraperda Jember Memanas, Empat Anggota DPRD Dipanggil Jaksa
Selain itu, posisi tubuh Febrian juga janggal.
Tubuhnya tidak benar-benar menggantung, melainkan bersimpuh di lantai dengan posisi setengah duduk.
Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian apakah korban bunuh diri atau dibunuh.
Mereka berharap, polisi bisa membongkar kasus ini sampai tuntas. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh