Radar Jember - Usia tua tidak menghalangi niat untuk tetap aktif beraktivitas.
Sebagian dari mereka percaya, tua adalah keniscayaan, tapi sehat adalah pilihan.
Cerita mereka terangkum saat mengikuti Tajemtra 2025 kemarin.
Panasnya terik matahari seakan tanpa kompromi.
Meski sudah melewati ubun-ubun kepala, ditambah keringat dingin yang mulai bercucuran membasahi pipi, tak menyurutkan semangat puluhan ribu orang yang telah berkumpul di Alun-Alun Tanggul, Jember, Sabtu (23/8) lalu.
Saat jam mulai menunjukkan pukul 13.30, satu per satu dari mereka mulai mengambil posisi.
Mengambil ancang-ancang untuk memulai gerak jalan sejauh 30 meter, start dari Alun-Alun Tanggul dan finish Alun-Alun Jember.
Peserta dari usia 17 tahun sampai 77 tahun, semua tumplek blek memulai perjalanan adu ketangkasan yang memperebutkan total hadiah Rp 100 juta itu.
Tak hanya warga Jember, masyarakat dari luar daerah hingga peserta mancanegara juga tak mau ketinggalan.
Bahkan, tidak sedikit kakek yang usianya hampir seabad juga turun.
Mereka seolah enggan kalah dengan yang muda-muda.
Suasana itu terekam saat gelaran gerak jalan Tanggul Jember Tradisional atau Tajemtra 2025, yang langsung dibuka oleh Bupati Jember Muhammad Fawait, saat itu.
Meski mayoritas peserta adalah remaja dan dewasa.
Namun, tak sedikit dari mereka yang sudah lanjut usia.
Salah satunya seperti Junaidi, 74, warga asal Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya.
Sambil mengenakan topi payung, kakek 74 tahun ini tampil cukup nyentrik.
Ia berjalan dengan penuh percaya diri di tengah-tengah lautan peserta yang didominasi anak-anak muda.
"Ini keikutsertaan saya yang ketiga kalinya di Tajemtra di Jember ini," aku kakek itu sambil menggendong ransel merah dan menenteng air mineral.
Dari Surabaya, Junaidi ikut bersama sejumlah peserta lain berangkat menggunakan kereta api sekitar pukul 06.00, tiba di Stasiun Tanggul sekitar pukul 09.00.
"Rencananya nanti pulangnya naik kereta api lagi," katanya.
Ditanya motivasi ikut Tajemtra, ia menjawab santai.
Kata dia, keramahan masyarakat Jember membuatnya kepincut hingga tertarik sering mengunjungi Jember.
Ia juga percaya diri bisa tuntas hingga finish.
Begitu sampai finish, ia berencana untuk hunting kuliner di perkotaan Jember.
"Saya paling senang dengan Jember ini karena masyarakatnya baik-baik, dan banyak jajannya juga, kuliner," imbuh Junaidi yang juga fans Persebaya Surabaya itu.
Lain Junaidi, lain pula motivasi yang dimiliki oleh Jumali, warga Desa Rowotengah, Kecamatan Sumberbaru, Jember.
Lebih dari Junaidi, kakek usia 61 tahun itu malah sudah mengikuti Tajemtra yang kesepuluh kalinya.
"Ini Tajemtra saya yang kesepuluh kalinya," akunya, saat ditemui.
Bagi Jumali, mengikuti gerak jalan sejauh 30 kilometer itu untuk menguji sejauh mana tingkat kesehatannya.
Ia juga harus berlatih jalan sebelum mengikuti event gerak jalan yang sudah menjadi tradisi di Jember itu.
"Ikut Tajemtra untuk menguji kesehatan saya, apa masih kuat, apa masih sehat atau tidak, ini ya harus sampai finish kalau tidak sampai finish kan tidak dapat sertifikat, atau piagam sebagai bukti," imbuh kakek satu cucu ini.
Ia lalu melanjutkan perjalanan sambil membawa tas dan menentang air mineral gelas.
Selain Jumali dan Junaidi, ada kakek-kakek asal Surabaya lainnya yang juga turun mengikuti Tajemtra.
Namanya, Saedi, usianya 74 tahun.
Meski memiliki perawakan yang agak sedikit membungkuk, suara Saedi terdengar masih lantang dan lugas.
"Saya ikut Tajemtra sudah lima kalinya ini, karena event-nya bagus, suasananya dapat, sehat dan menyehatkan juga," aku kakek 74 tahun ini, melanjutkan perjalanan bersama kawannya, yang juga seorang kakek-kakek asal Sidoarjo.
Meski usianya sudah tidak lagi muda, semangatnya mereka ini tampak masih menyala. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh