Radar Jember - Setiap hari, alun-alun pusat kota Jember tak pernah sepi.
Dari pagi hingga malam, orang datang silih berganti.
Ada yang joging mengitari lintasan, bermain basket di sudut lapangan, atau sekadar duduk di tepi sambil menyeruput kopi.
Ratusan orang berkumpul di satu titik ruang publik yang jadi kebanggaan kota ini.
Namun, di balik keramaian itu, ada satu fasilitas penting yang sering jadi sorotan: toilet umum.
Dua bangunan toilet berdiri tak jauh dari area utama alun-alun.
Bagaimana kondisinya?
Apakah cukup layak menampung kebutuhan ratusan pengunjung setiap harinya?
Dari luar, tampilannya cukup mencolok.
Desainnya modern, berdiri rapi dengan bentuk yang bahkan lebih menyerupai rumah di perumahan elite daripada toilet umum.
Saat pintu dibuka, aroma menyengat yang biasanya identik dengan toilet umum tidak tercium.
Ruangan dalamnya relatif bersih.
Keramik mengilap, lantai tidak becek, dan air di setiap bilik masih mengalir.
Keran pun mengalirkan air tanpa kendala.
Tak berlebihan jika toilet alun-alun Jember ini disebut bisa menjadi contoh pengelolaan toilet ruang terbuka hijau (RTH).
Kehadiran fasilitas yang terawat membuat pengunjung lebih nyaman dan betah berlama-lama.
Meski begitu, ada catatan yang tak bisa diabaikan.
Sejumlah fasilitas mulai menunjukkan tanda-tanda terabaikan.
Wastafel di sisi kiri tampak mampet, menyisakan air kotor yang menggenang di atas permukaannya.
Bercak noda juga terlihat di dinding, merusak kesan estetik.
Hal kecil, tapi bisa memberi kesan besar: wajah bersih alun-alun jadi tercoreng.
Alif Zakariya, salah satu pengunjung yang sore itu baru saja selesai jogging, mengaku puas dengan kondisi toilet.
“Buang air kecil nyaman, airnya hidup, bau nggak ada. Bersih juga,” katanya sambil duduk melepas lelah di bangku taman, Minggu sore (24/8). Namun ia menambahkan satu harapan,
“Kalau bisa ada petugas yang rutin cek. Kalau ada yang mampet, bisa langsung diperbaiki. Toilet kan kebutuhan banyak orang.” tuturnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh