Radar Jember - Minggu, 22 Juli 1947, sekitar pukul 10 pagi, Soekarsih bersama keluarganya sedang berada di rumah.
Ayah dan ibu Soekarsih, Soekardi dan Roesmini, tengah menyambut kedatangan dua tamu, Soeroso dan Mat Yasir.
Sementara keempat saudara Soekarsih masing-masing Sardjono, Bambang Soedarto, Sri Soesinah, dan Soedarmadji juga tengah melakukan aktivitas masing-masing di rumah.
Di tengah suasana kedamaian itu, tiba-tiba tampak satu truk pasukan Belanda dari arah Ambulu yang langsung menggerebek kediaman Soekarsih sekeluarga.
Sontak, seisi rumah lari kocar-kacir menyelamatkan diri.
Soekardi dan Mat Yasir yang merupakan seorang guru nekat menceburkan diri ke sungai yang saat itu sedang banjir.
Sementara tamu lain, Soeroso, mengalami nasib nahas kala harus tertangkap Belanda hingga digelandang ke Pos Komando Mayor Lot di Ambulu.
Sedangkan Soerasih berhasil sembunyi di kamar mandi.
Nasib beruntung juga dialami keempat saudaranya yang sembunyi dengan bertiarap di tempat perlindungan.
Meski hari itu Belanda gagal menangkap target, rumah keluarga Soekardi sudah tercium sebagai basis pejuang.
“Setelah kejadian itu, kami memutuskan pindah rumah,” ungkap Soerasih kepada Jawa Pos Radar Jember.
Benar saja, tiga hari kemudian Belanda datang lagi.
Warga sudah banyak mengungsi ke wilayah sekitar Curahrejo dan Pagar Gunung.
Kecewa, pasukan penjajah lalu membabi buta menembaki rumah-rumah warga dengan meriam.
Rumah Soekardi pun rata dengan tanah.
Untuk diketahui, rumah itu memang dijadikan posko gerilya yang dipimpin Mayor Soekadijo, cikal-bakal terbentuknya Batalyon Infanteri 509.
Sejak saat itu, jalan hidup Soekarsih berubah.
Dia yang sebelumnya merupakan seorang guru, kemudian memilih bergabung dengan Kompi 2 Batalyon Gerilya VIII.
Tak hanya menyiapkan logistik, ia juga bertugas menyimpan dokumen penting pasukan.
Bersama tentara gerilya, ia bergerilya dari Hutan Wonowiri, Curahnongko Tempurejo, hingga terjebak dalam pengepungan Belanda di lereng Semeru.
Perjalanan panjang ditempuh dengan berjalan kaki, melewati sungai, ngarai, hingga naik perahu kecil menyeberangi Pandanwangi, Lumajang.
“Saya tidak bisa mengimbangi pasukan, tapi tetap menyusul dengan rombongan Banyuwangi. Yang saya pikirkan waktu itu cuma satu, jangan sampai ditangkap Belanda,” tuturnya.
Perjuangannya tak berhenti di Agresi Militer II.
Ia ikut mendirikan sekolah darurat di pengungsian Blitar, lalu kembali bergerilya ke Besuki melewati hutan dan Sungai Brantas.
Berkali-kali terpisah dari pasukan, ia selalu menemukan cara bergabung kembali.
Bahkan pernah ditahan di markas Belanda di Balung dan diinterogasi soal Komandan Soekadijo.
Namun, Soekarsih bergeming, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
“Saya pura-pura tidak tahu apa-apa,” kenangnya.
Kisahnya juga terhubung dengan pertempuran besar.
Ia melihat sendiri bagaimana Mayor Moch. Sroedji gugur di Mumbulsari pada Februari 1949.
Ia pula yang menyaksikan masyarakat desa berjatuhan saat lari bersembunyi di kebun nanas Kotta Blater.
Semua itu terekam kuat dalam ingatannya, meski kini tubuh renta menopang hidupnya.
“Sekarang jalan saja susah, tapi dulu saya perang pegang senjata api,” katanya.
Tahun 1950, di tengah riuh perjuangan, Soekarsih dipersunting Sersan Soetardjo, komandan regu tempat ia bergabung.
Sejak itu, ia mendampingi sang suami bertugas sebagai anggota ABRI hingga pensiun.
Gelar veteran perintis resmi diterimanya pada 1982.
Ia juga dipercaya memimpin Korps Wanita Veteran RI (Kowaveri) Jember hingga 1990-an, saat sebagian besar rekannya satu per satu wafat. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh