Radar Jember - Penutupan Jalur Gumitir menyimpan banyak cerita.
Salah satunya, kesabaran dan kegigihan ibu dan anak yang berjualan ayam dari Sukowono ke Banyuwangi.
Rezeki harus dicari, karena tak akan datang sendiri.
Begitu kata pepatah yang menjadi prinsip Susilowati, 45.
Dia mengajari anaknya, Alfin Aerlangga, 19, untuk terus berjuang dalam hidup.
Mencari rezeki, sekalipun tantangannya berat.
Ibu dan anak ini berasal dari Desa Pocangan, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember.
Saat berada di pos jalan alternatif, keduanya sempat berbincang gayeng dengan wartawan Jawa Pos Radar Jember.
Susi dan Alfin setiap harinya menjual ayam ke pedagang asal Banyuwangi.
Saat bertemu di jalan alternatif Gumitir, keduanya sudah selesai mengantar puluhan ayam ke kabupaten tetangga.
Jumlahnya 70 ekor dalam satu rombong yang diangkut dengan sepeda butut jenis Honda Supra protolan.
Susi mengaku, sejak jalan Gumitir ditutup, dia bersama putranya harus melewati jalan alternatif dengan kondisi jalan makadam.
Ini dilakukan karena tak mungkin akan memutar lewat Kabupaten Bondowoso atau Situbondo untuk sampai ke Banyuwangi.
“Tutupnya kan hari Kamis (24/7), saya baru kerja dan lewat sini mulai Jumat (25/7),” katanya kemarin.
Dia menyebut, pagi-pagi begitu jalan alternatif dibuka pukul 06.00, ia langsung masuk untuk mengejar pengiriman ayam kepada pedagang yang ada di Kalibaru, Banyuwangi.
Begitu pulang, dia juga melintas di jalan alternatif yang merupakan jalan perkebunan.
“Kita patuhi saja ketika jalan ditutup total karena ada perbaikan jalan, ini untuk kepentingan orang banyak,” kata Susi.
Susi sebenarnya pernah tinggal di Banyuwangi selama sepuluh tahun dan jualan ayam kampung.
Setelah di Jember, tepatnya di Kecamatan Sukowono, dia tetap berjualan ayam untuk dikirim ke Banyuwangi.
Saat jalan nasional belum ditutup total karena perbaikan, dia menggunakan mobil pikap yang disopiri sendiri sejak tahun 2019.
Namun, kini dia dan anaknya nekat membawa sepeda motor dengan rombong dari bambu.
Di jalan itu, dia harus menambah jarak tempuh 16 kilometer karena harus bolak-balik dari biasanya.
Perempuan ini mengaku, pergi dan pulang kerja, banyak kenangan yang didapat.
Menurutnya, setiap hari selalu mengalami kendala, seperti di tanjakan jalan dan berbatu.
“Ketika tidak kuat karena beban berat motor sampai miring dan harus dibantu anak saya. Kadang di jalan menanjak motor hingga terangkat karena jumlah ayam cukup banyak,” kata Susi.
Meski begitu, dia harus pandai-pandai bersyukur.
“Kami jalani dengan nyaman dan niat, maka ujian itu akan hilang. Apalagi setiap hari pulang pergi lewat jalan alternatif,” tuturnya.
Saat lelah, dia dan putranya sama-sama beristirahat di gapura Pos Kebun Gunung Gumitir.
“Di tempat istirahat itulah kita saling berbagi pengalaman karena juga ada pedagang lain yang istirahat,” kata Susi.
Selama perbaikan jalan nasional di tikungan Mbah Singo dia tetap semangat mengirim ayam dengan sepeda motor butut.
“Alhamdulillah, sejak Gumitir ditutup total tidak pernah ada kendala dengan sepeda motor. Paling kendalanya tidak kuat menanjak karena muatan ayam banyak dan berat,” ucapnya.
Tanjakan yang biasanya membuat sepeda motornya mogok yakni di sekitar pabrik kopi.
Jalannya menanjak dan saat hujan menjadi licin.
“Tetapi itu harus disyukuri masih ada jalan alternatif yang disiapkan pihak kebun. Dari pada harus lewat Bondowoso dan Situbondo,” ucapnya.
Sementara itu, Alfin mengaku lebih senang bisa bekerja membantu ibunya.
Setelah lulus, dia sebenarnya diminta untuk kuliah, namun dia memilih untuk membantu ibunya dan ikut jualan ayam. “Memang awalnya saya mau kuliah, tetapi dipikir lagi saya harus kerja membantu ibu,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh