Radar Jember - Proyek perbaikan jalan nasional di jalur Gumitir jadi sorotan serius Komisi C DPRD Jember.
Jalur vital penghubung Jember-Banyuwangi itu saat ini tengah dalam tahap penguatan struktur jalan dengan metode bored pile.
Dewan mendesak agar pengerjaan rampung lebih cepat.
Hal itu disampaikan usai sidak perbaikan jalan bersama Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) dan Dinas Perhubungan (Dishub), Jumat (15/8) sore.
Pelaksana PT Rajendra Pratama Jaya Andre Pandora mengatakan, percepatan dilakukan dengan menambah armada alat berat.
Awalnya, pengeboran hanya menggunakan satu alat bored pile.
Tetapi karena ada potensi keterlambatan, akhirnya didatangkan dua alat.
"Dengan dua alat ini, sehari bisa menyelesaikan empat titik sekaligus pengecoran. Targetnya kalau bisa sebelum 24 September sudah selesai,” ujarnya.
Andre menerangkan, pekerjaan dilakukan hampir tanpa henti.
Tim mulai bekerja sejak pukul 08.00 hingga dini hari, bahkan kerap berakhir pukul 1.00 atau 2.00 dini hari.
Namun, faktor cuaca tetap menjadi tantangan utama.
“Kalau hujan deras, apalagi disertai petir, pekerjaan harus dihentikan karena risikonya tinggi. Lokasi ini di tebing curam, jadi keselamatan alat dan pekerja menjadi prioritas,” terangnya.
Per 8 Agustus lalu, lanjutnya, progres pengerjaan deviasi sekitar 27 persen.
Dari rencana 55 titik, hingga pertengahan Agustus progres pengerjaan sudah mencapai 53 titik.
Bahkan mendapat tambahan hingga total 60 titik karena adanya longsor susulan di luar perencanaan awal.
"Rencana awal hanya 109 meter. Tetapi ada penambahan 10 meter. Percepatan tetap kami usahakan semaksimal mungkin,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Jember, David Handoko Seto, menegaskan pentingnya percepatan proyek ini.
Menurutnya, hal ini menyangkut akses vital masyarakat.
Mulai perekonomian hingga akses lalu lintas.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar penyelesaian bisa lebih cepat dilakukan.
"Kami mendorong agar penyelesaian tidak molor dari target. Walaupun kontrak sampai 24 September, kami berharap bisa lebih cepat,” kata politisi Nasdem tersebut.
Selain progres, David juga menyoroti adanya titik darurat lain yang sebelumnya sempat ambrol.
Namun, tambahan anggaran dari pusat memungkinkan pengerjaan dilakukan lebih cepat.
“Di titik kedua sudah dikerjakan dengan 15 bored pile, kedalaman antara 15–17 meter. Nilai proyek di jalur utama ini sekitar Rp 15 miliar, sementara di titik bawah sekitar Rp 1 miliar,” jelasnya.
Dia meminta agar penambahan titik pengerjaan karena longsor baru tidak jadi hambatan.
Sehingga pengerjaan rampung sebelum tenggat waktu yang ditentukan.
"Nantinya kalau bisa jangan dilakukan buka tutup, tetapi langsung bisa dengan lancar digunakan masyarakat," imbuhnya.
Anggota Komisi C Agung Budiman menambahkan, kualitas pengerjaan harus jadi prioritas.
Pihaknya menekankan agar spesifikasi tidak dikurangi.
Artinya material itu sesuai standar. Mulai dari besi hingga mutu beton.
"Nanti tetap akan ada pengecekan laboratorium secara bertahap untuk memastikan kualitas sesuai dokumen lelang,” ujar Agung.
Legislator Golkar itu menyampaikan, lalu lintas di jalur Gumitir sangat padat.
Maka kekuatan konstruksi tidak boleh dikompromikan.
“Kalau kualitas terjaga, jalan akan lebih awet dan aman digunakan. Jadi kami akan terus melakukan pengawasan hingga tahap akhir,” pungkasnya. (kin/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh