Radar Jember - Penutupan Jalur Gumitir untuk perbaikan jalan nasional ternyata ada yang tidak setuju.
Ini baru mencuat saat belasan orang menggelar aksi demonstrasi, kemarin.
Mereka menyebut penutupan jalan selama dua bulan merugikan pemilik warung di sepanjang jalan nasional itu dan meminta agar segera dibuka.
Mereka yang turun jalan datang dari Pemerhati Hukum Indonesia (PHI) Pusat.
Ada belasan orang yang menggelar aksi dengan membentangkan banner dan poster berbagai tulisan.
Hal ini pun menjadi tontonan warga sekitar dan pemilik warung di sekitar Gumitir.
Ketua PHI Pusat Moch. Hasan Basri yang juga korlap aksi mengatakan, mereka sudah tidak bisa berjualan akibat penutupan Jalur Gumitir.
Ia meminta agar Jalur Gumitir diberlakukan buka tutup.
“Dengan diberlakukannya buka tutup masih ada kendaraan roda empat yang lewat, sehingga warung di sepanjang Jalur Gumitir itu masih ada yang berhenti,“ kata korlap aksi.
Dia berjanji, jika sepekan ke depan atau paling lama dua minggu Jalur Gumitir masih ditutup total, akan aksi lagi dengan jumlah massa lebih banyak.
Mereka yang aksi ada juga dari Situbondo dan Banyuwangi.
Aksi demo yang dilakukan PHI itu mendapat pengamanan dari puluhan anggota Satsabhara Polres Jember, beberapa anggota polsek, serta anggota resmob dan intel Polres Jember.
Pengamanan dilakukan ekstra karena rencananya aksi turun ke jalan itu akan diikuti 150 orang.
Kabag Ops Polres Jember Kompol Istono mengatakan, pengamanan aksi PHI bersama dengan pelaku usaha atau pemilik warung yang ada di sekitar Gumitir.
“Mereka mempunyai hak, sehingga kami hanya menjembatani saja apa yang mereka sampaikan terkait tuntutannya, agar penutupan jalur dikaji ulang,” katanya.
Menurutnya, penutupan Jalur Gumitir dilakukan kepentingan banyak orang.
Apalagi, jalur itu jalur nasional.
Ketika ada kerusakan dan tidak dibangun, bisa jadi akan rusak lebih parah lagi.
“Aspirasi mereka kami tampung, biar nanti mereka akan menemui DPRD, silakan. Ataupun Pak Bupati,” kata Istono.
Saat pengamanan, terlihat juga ada Kapolsek Silo AKP M. Na’i dan Babinsa Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.
Sementara itu, beberapa pemilik warung yang terdampak dengan penutupan Jalur Gumitir, kepada Jawa Pos Radar Jember mengaku setuju dengan perbaikan jalan, sekalipun jalan harus ditutup selama dua bulan.
“Ini untuk kepentingan orang, bukan hanya pemilik warung,” kata Purwanto, pemilik warung di sekitar Gumitir.
Dia dan banyak pemilik warung di sekitar Jalur Gumitir setuju dengan penutupan jalan demi perbaikan jalan nasional itu.
Bahkan, saat demo dilakukan, di lokasi juga banyak pemilik warung di sekitar Gumitir yang menonton aksi belasan orang itu.
“Saya setuju jalan nasional ditutup untuk perbaikan, karena sudah sering terjadi kecelakaan tunggal. Kalau dibiarkan, bisa semakin rusak,” ucapnya.
Dikatakan, akibat penutupan jalan memang banyak warung yang terdampak hingga tutup.
Namun, demi kepentingan umum dan keselamatan semua nyawa di jalur Jawa-Bali lintas selatan itu, mayoritas orang setuju dengan penutupan jalan secara total.
“Apalagi perbaikan jalan nasional sudah jalan tiga Minggu dari jadwal dua bulan yang telah direncanakan. Kalau tidak dikerjakan, jalan di tikungan Mbah Singo dan warung Kokap akan semakin rusak dan nyawa jadi taruhan,” kata pria pemilik warung Doraemon itu. (jum/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh