ARJASA, Radar Jember - Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sempat menyandera 40 SPBU Jember pekan lalu, sempat ada kekhawatiran pasokan gas elpiji juga mengalami kelangkaan.
Meski krisis tersebut dapat tertangani dalam kurun waktu empat hari dengan penebalan stok BBM hingga dua kali lipat, namun hal itu tidak diikuti dengan penambahan stok elpiji.
Ketua Hiswana Migas daerah Besuki Raya, Ikbal Wilda Fardana, mengatakan bahwa saat terjadinya krisis BBM di Jember itu, secara umum stok gas elpiji masih cukup.
"Meski terjadi kelangkaan BBM kemarin, secara umum stok elpiji sebenarnya cukup. Karena untuk elpiji ini kan, tengki timbunnya di SPBE kapasitasnya besar, jadi temen-temen SPBE di lapangan tinggal ngatur stoknya aja," katanya.
Meski begitu, krisis BBM di Jember pekan lalu itu tetap diwaspadai akan merembet kepada stok elpiji.
Mengingat, kata jalur distribusi BBM dan elpiji wilayah eks Karesidenan Besuki, termasuk Jember, diambil dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Banyuwangi.
"Karena itu ketika terjadi krisis, memang harus menjadi atensi bersama, agar elpiji tidak ikut kena krisis, karena kalau melihat jalur distribusi Jember Banyuwangi ini tidak menentu, kadang lancar, kadang macet," jelas dia.
Ikbal menambahkan, sejauh ini stok elpiji di Jember masih sesuai alokasi untuk tahun 2025, yakni sebanyak 70 ribu metrik ton.
"Sejauh ini belum ada penambahan stok elpiji untuk Jember, alokasinya tetap seperti yang kami sampaikan di awal, total sekitar 70 ribu metrik ton," imbuh pria yang juga anggota DPRD Jember ini. (mau/nur)
Editor : M. Ainul Budi