Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dampak di Balik Jember Mendadak Krisis BBM, Ekonomi Terhambat, Banyak Dagangan Tersendat

Sidkin • Senin, 4 Agustus 2025 | 20:38 WIB

 

 

KEHABISAN BENSIN: Pengendara motor di jalan gajah mada mendorong motonya yang tengah kehabisan bensin, Sabtu 27/7 (Foto Yulio FA/Radar Jember)
KEHABISAN BENSIN: Pengendara motor di jalan gajah mada mendorong motonya yang tengah kehabisan bensin, Sabtu 27/7 (Foto Yulio FA/Radar Jember)

Banyak orang yang kehilangan waktu dan tenaga saat jember krisis BBM. Bahkan, banyak orang yang rela beli eceran dengan harga tiga kali lipat.

Lantas, apa saja yang terjadi selama Jember dilanda krisis BBM?

SIDKIN, Radar Jember

KETIKA antrean di SPBU mengular hingga berjam-jam, tidak sedikit pedagang mlijo, pedagang keliling, ojek pangkalan hingga ojek online (ojol) kelimpungan.

Mobilitas terbatas. Waktu terbuang dengan mengantre. Itu juga belum ada kepastian.

Tak hanya itu, biaya operasional ikut meningkat. Itu membuat sebagian pelaku usaha kecil memilih untuk rehat. Roda ekonomi yang biasa mereka putar setiap hari pun tersendat.

Fenomena itu terjadi beberapa hari saat krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Kabupaten Jember. Sekitar lima hari, krisis itu merobek sendi-sendi ekonomi masyarakat kecil.

Paling terasa adalah sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Biasanya buka dari pagi sampai tengah malam. Tapi selama BBM langka kemarin, tutupnya lebih awal,” ungkap Putri, salah satu pelaku UMKM kuliner di Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Sabtu (2/8).

Ibu satu anak itu mengaku, pendapatan juga ikut menurun. Sebab, dirinya membatasi pesanan dari konsumen.

Pun jasa delivery order (DO) yang biasa dilakukan, terpaksa ditutup. Padahal, biasanya dia atau suaminya mengantar pesanan itu

. “Setiap ada yang pesan, saya sampaikan kalau tidak bisa kirim ke alamat mereka. Kalau mau, diambil sendiri atau pesan ojol. Sebagian besar akhirnya memilih mengambil sendiri,” kata Putri yang menjual makanan dan minuman ringan itu.

Meski hanya berjualan di rumah, kelangkaan BBM itu juga menghambat belanja keperluan usaha. Agar usaha tetap jalan, suaminya berkeliling mencari SPBU yang cukup sepi. Namun, saat di lokasi, antrean tetap panjang.

“Mau bagaimana lagi, ya harus antre agar bisa tetap berjualan,” imbuhnya.

Midi, pedagang mlijo di Sumbersari juga sambat selama krisis BBM. Sebab, sejumlah bumbu dapur ikut naik. Hal itu membuatnya tak menyetok barang-barang dalam jumlah banyak untuk dijual kembali.

“Sudah capai cari BBM, ikut mengantre, tapi saat keliling berjualan, untungnya dikit,” katanya.

Dirinya sempat membeli BBM eceran. Namun harganya juga mendadak mahal. Seliter pertalite dibeli dengan harga Rp 13 ribu.

“Alhamdulillah (krisis BBM,Red) tidak bertahan lama. Jadi sekarang lebih tenang,” ujarnya.

Di berbagai titik, banyak pedagang keliling lain yang menggantungkan penghasilan harian dari mobilitas sepeda motor juga mengalami hal serupa. Mereka bukan hanya kehilangan BBM, tetapi juga kehilangan pemasukan, bahkan pelanggan.

Krisis BBM ini juga menjadi sorotan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jember. Wakil Ketua Bidang UMKM, Koperasi, dan Ekonomi Kreatif Kadin Jember Rendra Wirawan mengatakan, UMKM menjadi sektor paling terdampak.

Terutama kuliner. Sebab, mereka harus menjual barang dagangan mereka secepatnya.

“Mereka ini dilema. Belanja atau produksi barang hari ini, ya, harus dijual hari ini juga. Karena itu barang yang cepat basi. Tentu mereka tidak menginginkan itu. Sehingga memilih tidak berproduksi atau berjualan,” katanya, beberapa hari lalu.

Rendra menyebut, Jember merupakan daerah dengan jumlah UMKM terbanyak di Jawa Timur, yakni sekitar 642 ribu pelaku usaha.

Sebagian besar berada di sektor informal dan bergantung pada kendaraan bermotor untuk aktivitas produksi dan distribusi.

Dalam kondisi normal, para pelaku UMKM inilah yang menjadi denyut kehidupan ekonomi di pasar-pasar tradisional, desa, hingga perumahan. Namun krisis BBM membuat alur distribusi bahan baku dan produk jadi terganggu.

Kadin menaksir, kerugian akibat krisis BBM di Jember mencapai sekitar Rp 7 miliar per hari. Angka itu bukan hanya berasal dari kerugian omzet, tetapi juga dari efek domino pada kegiatan ekonomi yang terhenti. Mulai dari produksi yang macet, tenaga kerja yang kehilangan jam kerja, hingga biaya distribusi yang membengkak.

Tak hanya UMKM, sektor konstruksi pun ikut terpukul. Banyak pekerja harian tak bisa datang ke lokasi proyek karena tidak mendapatkan BBM.

Akibatnya, jumlah tenaga kerja di lapangan berkurang. Hampir separuh. Selain itu, distribusi material bangunan pun ikut tersendat.

“Jumlah tenaga kerja di sektor infrastruktur berkurang hampir 50 persen. Pekerjaan dan distribusi juga ikut tersendat,” imbuh Mohamad Budi Hartono, Kabid SDM Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Kadin Jember.

Hal itu, kata Budi, berdampak pada nilai ekonomis pekerjaan tersebut. Para pengusaha pun harus menanggung biaya tambahan dan kerugian-kerugian itu.

Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Gerak cepat pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan Pertamina mampu mengatasi krisis tersebut.

Krisis yang dimulai sekira hari Sabtu (26/7) berangsur normal pada Kamis (31/7).

Kadin mengapresiasi langkah percepatan pendistribusian dan penyelesaian krisis BBM.

“Kami mengapresiasi bupati, gubernur, pertamina, dan semua yang terlibat untuk mengatasi dan mengakhiri krisis BBM di Jember,” kata Rendra.

Pihaknya berharap, kondisi ini terus terjaga setidaknya selama masa penutupan jalur Gumitir.

Sebab, jika dibiarkan kembali normal, dikhawatirkan krisis serupa akan muncul kembali. Hal itu bisa mengganggu perekonomian dan iklim investasi di Jember.

“Ini jadi pelajaran pentingnya komunikasi, koordinasi, dan sinergi lintas sektor. Mitigasi dan persiapan menjadi hal penting untuk dibahas bersama semua pihak. Mudah-mudahan ke depan, perekonomian kembali bangkit dan investasi di Jember terus melaju,” pungkasnya. (nur)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #kadin #BBM