Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dulu Pakai Musik Tradisional, Sekarang Remix dan Sound Jumbo, Sound Horeg Menggema di Agustus? Ini Pendapat Dosen Unmuh Jember

M Adhi Surya • Senin, 4 Agustus 2025 | 13:25 WIB

 

GUNAKAN SOUND HOREG: Salah satu tim karnaval budaya menggunakan sound horeg pada awal September 2024 lalu. Gubernur Khofifah menegaskan sound horeg harus diatur.
GUNAKAN SOUND HOREG: Salah satu tim karnaval budaya menggunakan sound horeg pada awal September 2024 lalu. Gubernur Khofifah menegaskan sound horeg harus diatur.

SUMBERSARI, Radar Jember – Memasuki bulan Agustus, dentuman sound horeg biasanya menggelegar dari pelosok desa hingga jantung kota.

Fenomena yang kerap mengiringi perayaan HUT RI ini bukan sekadar urusan musik keras dan tarian jalanan, melainkan mencerminkan dinamika sosial yang lebih dalam.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Danan Satriyo Wibowo mengatakan, dari perspektif psikologi, sound horeg bisa dianalisis melalui tiga sisi utama.

“Yakni sebagai ekspresi identitas individu, bentuk interaksi sosial, dan proses adaptasi atau modifikasi nilai-nilai budaya lokal,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa kebiasaan ini bukan barang baru dalam tradisi Agustusan.

Sejak dulu ada iringan musik dari mobil pickup. Tapi sekarang bentuknya lebih massif.

Ada battle sound, remix ekstrem, hingga panggung berjalan lengkap dengan tata cahaya.

Transformasi ini, tambahnya, menunjukkan tingginya minat dan kreativitas dari pelaku maupun penikmatnya.

"Ini adalah bentuk modifikasi budaya. Dulu orang pakai gamelan, sekarang remix dan speaker aktif,” imbuhnya.

Menurut Danan, keberadaan komunitas pecinta sound horeg juga tak lepas dari penguatan sosial. Sehingga tak heran, semakin banyak yang bergabung dan saling pamer keunggulan.

“Begitu masyarakat menerimanya, itu menciptakan pengakuan. Mereka merasa eksis, merasa punya tempat. Ini sesuai teori penguatan dari Skinner,” ujarnya.

Lebih dari sekadar hiburan, sound horeg juga berfungsi membentuk rasa memiliki dalam sebuah kelompok.

“Kadang, seseorang yang awalnya tidak suka bisa berubah karena dorongan kelompok atau tekanan norma sosial. Ini proses konformitas,” terang Danan.

Namun tak semua pihak menyambut sound horeg dengan tangan terbuka. Volume suara yang menggelegar acap kali menimbulkan konflik sosial. “Getaran dari dentuman bas bisa mengguncang kaca jendela hingga merusak genteng rumah. Ini bisa memicu pertengkaran antarwarga jika tak ada regulasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Danan mengingatkan potensi dampak kesehatan dari polusi suara. “Efeknya bisa lebih serius dari polusi udara. Ini bisa memekakkan telinga, dan fatal bagi orang dengan gangguan jantung,” katanya.

Ia menilai perlu ada kesadaran kolektif dan pengaturan yang bijak agar tidak menimbulkan bahaya. Di sisi lain, sound horeg membuka peluang ekonomi dan ruang kreativitas. Harga sewa satu paket bisa mencapai puluhan juta rupiah.

“Satu kotak speaker bisa Rp1 juta. Kalau satu truk isi 12 unit, bisa sampai Rp37 juta,” ungkap Danan. (dhi/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #sound horeg #Unmuh