Radar Jember - Situasi antrean BBM di Jember mengalami penurunan drastis.
Sebelumnya warga rela mengantre hingga lebih dari 10 jam hanya demi beberapa liter bensin.
Kini, dalam waktu kurang dari 10 menit mereka sudah bisa mendapatkan giliran.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember di sejumlah SPBU kemarin (30/7/2025), antrean kendaraan sudah nyaris tidak terlihat.
Namun, di balik kembalinya distribusi BBM yang normal, para pengecer yang telanjur menimbun dalam jumlah besar kini justru kebingungan.
Eceran yang sebelumnya tetap laris diburu meski tembus Rp 50 ribu per liter untuk pertamax, kini bahkan Rp 15 ribu pun tak lagi diminati.
Di media sosial, banyak pengecer dadakan yang ramai menawarkan stok mereka.
Ada yang menjual Rp 20 ribu, bahkan Rp 17 ribu.
Namun, tetap saja sepi peminat.
Salah satu pengecer di sekitar SMKN 5 Jember yang enggan disebut namanya, mengaku stoknya menumpuk karena warga sudah kembali memilih antre di SPBU.
“Waktu parah-parahnya itu dua jeriken langsung habis. Sekarang, satu botol aja nggak ada yang tanya,” keluhnya.
Dia mengaku terjebak fear of missing out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan, saat melihat banyak penjual bensin yang meraup keuntungan.
Dia pun ikut berburu BBM ke berbagai SPBU untuk dijual kembali.
“Saya pikir bakal lama langkanya, ternyata baru dua hari sudah normal lagi. Sekarang bingung jualnya gimana,” ujarnya.
Sementara itu, distribusi BBM di Jember memang mulai menunjukkan pemulihan signifikan.
Ketua DPRD Jember Ahmad Halim, usai melakukan pantauan langsung ke sejumlah SPBU, menyebut antrean sudah terurai.
“Di SPBU Jalan Ahmad Yani, Gajah Mada, Mangli, Tawang Alun, hingga Bangsal, tidak ada antrean lagi. Artinya kondisi sudah kembali normal,” ujarnya, Rabu (30/7).
Dia juga membenarkan, para pengecer mulai bermunculan kembali, terutama di pinggir-pinggir jalan.
Namun, harga jual di tingkat eceran memang masih tinggi, karena tidak terikat aturan harga eceran tertinggi seperti SPBU resmi.
“Kalau soal harga pengecer, itu di luar kewenangan SPBU dan pemerintah daerah,” ucap Halim. (yul/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh