Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Andreas Harsono di Jember: Menulis Itu Memasak, Arsip Bisa Bernyawa Lewat Tulisan yang Hidup

Mega Silvia RJ • Rabu, 23 Juli 2025 | 13:55 WIB
SERIUS NAMUN SANTAI: Andreas Harsono, Jurnalis senior, penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme, membuka wawasan peserta kelas menulis.
SERIUS NAMUN SANTAI: Andreas Harsono, Jurnalis senior, penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme, membuka wawasan peserta kelas menulis.

 

Radar Jember - Arsip, sejarah, bahkan artefak sekalipun hanya akan menjadi benda diam tanpa narasi tertulis.

Kesadaran itu kian tumbuh dari dalam diri komunitas Sudut Kalisat yang bermukim di Dusun Krajan, Desa Ajung, Kecamatan Kalisat.

Jurnalisme sastrawi menjadi pilihan tepat menurut mereka.

Mendatangkan Andreas Harsono, Jurnalis senior, penulis buku Agama Saya Adalah Jurnalisme, juga founder Yayasan Pantau dalam kelas menulis yang digelar di Mrawan Cafe and Resto, Dusun Curah Damar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Jember, Sabtu (19/7/2025) lalu.

Founder Sudut Kalisat RZ Hakim mengatakan, banyak kolektif seni dan budaya yang mulai mengambil peran penting sebagai penjaga arsip.

Mengumpulkan dokumen sejarah lokal, foto lama, rekaman suara, artefak rumah tangga, hingga narasi-narasi lisan.

Menurut Hakim, tulisan mampu memberikan nyawa sebuah arsip.

Ada konteks yang terbangun, ada makna yang ternarasikan, jembatan masa lalu dengan kini yang bisa berbicara.

"Ketiadaan tulisan juga membuat arsip sulit diakses secara luas. Hanya orang-orang dalam kolektif yang tahu cerita di baliknya. Dan ketika ingatan itu hanya hidup di kepala segelintir orang, kolektif menjadi sangat rentan," terangnya.

Sudut Kalisat menyatakan bahwa diam adalah bentuk ketidakberdayaan, maka menulis adalah wujud kekuatan, tak sekadar ekspresi dan gagasan.

Kolektif, kata dia, pada akhirnya punya ruang di tengah masyarakat.

Sejarah lokal pun menjadi perbincangan, memorial, bahkan mampu menggalang kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak.

"Potensi arsip sangat besar dalam mendukung gerakan kolektif. Maka dari itu, menulis bukan hanya pelengkap dari kerja pengarsipan, ia adalah napas yang membuat arsip bisa hidup, tumbuh, dan berbicara," ulasnya.

Andreas Harsono mengatakan, menulis seperti memasak.

 Ada resep, perkakas, lalu memasak bisa dilakukan.

Begitu pun dengan menulis naratif.

Dia pun mengingatkan sepuluh elemen jurnalisme dalam tiap prosesnya seperti pesan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

"Semakin besar naskah, semakin banyak perkakas yang dibutuhkan," ujarnya kepada 20 peserta kelas menulis dengan beragam background pekerjaan. (sil/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #kalisat #Jurnalis