Radar Jember - Serapan gabah oleh Perum Bulog Jember minim dalam dua bulan terakhir.
Hingga pertengahan Juli 2025, total gabah yang masuk ke gudang Bulog baru sekitar 4.000 ton.
Padahal, saat panen raya, serapan bisa tembus 60 ribu ton.
Kepala Bulog Jember Muhammad Ade Saputra mengungkap, serapan gabah saat ini jauh di bawah normal.
“Kalau dibanding panen raya, sekarang tak sampai satu persen,” katanya, Minggu (21/7/2025).
Menurutnya, anjloknya serapan disebabkan harga gabah di tingkat petani saat ini lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP).
Harga gabah kering panen (GKP) di petani mencapai Rp 7.000 per kilogram.
Sedangkan Bulog hanya bisa membeli sesuai HPP.
“Kalau sudah di atas HPP, kami tidak bisa masuk. Petani bebas menjual ke penggilingan atau jaringan lainnya,” tambahnya.
Padahal, berdasarkan data Dinas Pertanian, luas panen gadu di Jember saat ini mencapai 14 ribu hektare.
Bulog sudah memetakan tujuh kecamatan sebagai wilayah prioritas penyerapan musim kemarau ini.
Antara lain Kecamatan Gumukmas, Puger, Jombang, Ambulu, Jenggawah, Kencong, dan sebagian wilayah Jember Utara.
Meski serapan seret, Bulog tetap siaga.
Jika harga gabah turun dan mendekati HPP, Ade menyebut pihaknya akan sigap menyerap kembali hasil panen petani
“Kami tetap stand by. Yang penting sesuai ketentuan. Petani jangan sampai merugi, dan stok pemerintah juga tetap aman,” tegasnya.
Sepanjang 2024, Bulog Jember mencatat total serapan gabah mencapai 99 ribu ton.
Jika dikonversi, setara dengan sekitar 79 ribu hingga 80 ribu ton beras. (yul/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh