Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ada Sabda dari Leluhur, Tapak Kerajaan Blambangan dalam Spirit Pusaka Desa Sumberjeruk Jember

Mega Silvia RJ • Rabu, 23 Juli 2025 | 13:45 WIB
WARISAN: Pusaka Sumberjeruk menjadikan cerita desa itu kian sempurna.
WARISAN: Pusaka Sumberjeruk menjadikan cerita desa itu kian sempurna.

Radar Jember - Bukan sekadar desa, Sumberjeruk adalah gerbang ingatan.

Setelah babad dituliskan, cerita keris dan mantra turut bersatu dalam sabda leluhur melengkapi sejarah tutur.

Blambangan hidup kembali dari serpihan waktu.

Angin Sumberjeruk berhembus pelan, membawa bisik sejarah dari tanah yang dulu sunyi.

Desa di Kecamatan Kalisat itu perlahan menggeliat, memanggil kembali ingatan lama yang hampir tenggelam.

Dalam sabda, pusaka, dan ritual, warisan leluhur kembali menampakkan cahaya.

Paguyuban Tosan Aji (Pataji) Sapujagat datang bukan sekadar bertamu, tapi menjemput panggilan batin.

“Di situ pun ada berkenaan dengan pusaka ini. Yang beliau punyai yang satu, yang pertama itu adalah Jolo Tundo,” ujar founder sekaligus pembina Pataji, 24 Mei lalu.

Kehadiran mereka adalah jembatan antara yang gaib dan nyata, antara simbol dan sejarah.

Menegaskan kebenaran sejarah lisan yang telah dibukukan dalam sebuah babad oleh budayawan Abdur Rasyid, atau yang akrab disapa Cak Syid.

Pusaka dalam pandangan Pataji bukan sebatas besi tua berlekuk anggun.

Ia adalah doa yang dibentuk, kekuatan adikodrati yang mengalir dari Tuhan melalui tangan para empu.

“Tosan Aji artinya sebuah besi aji. Mengandung kekuatan adikodrati dari Tuhan,” jelasnya lirih tapi mantap.

Setiap keris, tombak, dan trisula adalah pengikat tanah dan jiwa.

Di Sumberjeruk, pusaka seperti Songgo Bumi, Mawar Kembar, dan Jolo Tundo bukan hanya benda pusaka, tapi penjaga arah dan rasa.

Mereka membawa pesan dari zaman yang nyaris hilang.

Sucipto menelusuri benang sejarah hingga ke jantung Blambangan masa permukaan, kerajaan tua yang lahir dari runtuhnya Majapahit.

“Berdirilah kerajaan Blambangan, awal mula di Situs Beteng (di Desa/Kecamatan Semboro),” tuturnya sambil menyebut Semboro sebagai tanah awal kelahiran spiritual kerajaan itu.

Jejaknya bersambung sampai Eyang Prabu Tawang Alun, nama yang kini diabadikan sebagai terminal teramai di Jember.

Pusaka yang dibawa para leluhur bukan semata senjata.

Tapi, juga lambang perlawanan dan pelindung semesta.

Keris Nogo Sosro dan Sangkelat disebut-sebut sebagai keris utama yang mengalirkan energi Majapahit ke Blambangan.

Dari kisah babad, keris ini menjadi api yang tak padam di tengah tekanan kerajaan Demak.

Hubungan Blambangan dengan kerajaan Sunda, Bali, Kediri, dan Madura membentuk satu mozaik budaya yang kaya dan berlapis.

“Makanya keris yang terkenal di Jember ini keris Blambangan,” katanya menyiratkan bahwa keris adalah benang merah antara pulau, darah, dan doa.

Dari pusaka itu, tumbuh akar spiritualitas yang melintasi sekat dan zaman.

Simbol-simbol dalam upacara di Sumberjeruk, seperti kemuning, jambe, beras, dan keris, bukan hanya hiasan.

Tapi, juga wujud toto sanding, bahasa tubuh dari sebuah persembahan.

Dalam keyakinannya, semua itu digerakkan oleh sistem trisula, kekuatan tiga yang menyatukan cipta, rasa, dan karsa.

“Kalau kita ingin hidup, damar murup, damar sesungguhnya kita hidup. Ya, dengan trisula ini,” ujarnya.

Pria asli Kalisat itu pun menegaskan tekadnya untuk ikut terlibat dalam pengembangan babad desa-desa lain di Kalisat.

“Karena keluhuran itu tanpa diawali oleh kita, masa nunggu izin leluhur. Ya, kitalah leluhur itu yang wujudnya,” katanya.

Di matanya, masa lalu bukan cerita lama, tapi suluh untuk masa depan.

Kesadaran akan pusaka bukan hanya tugas para sepuh, tapi juga warisan batin bagi generasi kini.

Di antara suara gamelan dan dupa yang mengepul, terasa ada roh yang ingin dikenali kembali.

Setiap simbol dalam ritual adalah pesan yang menunggu dibaca dengan hati terbuka.

Sucipto juga menyinggung pentingnya visualisasi fisik pusaka, agar sejarah tidak hanya jadi tutur, tapi bisa disentuh dan dilihat.

Dengan itu, rekonstruksi sejarah bisa lebih utuh dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kini, Sumberjeruk bukan lagi sekadar nama di peta.

Melainkan titik awal kebangkitan budaya lokal yang selama ini terlelap.

Dari ritual, pusaka, hingga tutur babad, desa ini mulai menjadi mercusuar spiritual dan sejarah.

Dan dari sinilah, Kalisat dan 12 desa sekitarnya bersiap menyalakan cahaya yang sama, menyambut masa depan dengan suluh masa lalu. (sil/c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #warisan leluhur #babad #sejarah desa