Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dulu Disiksa dan Dibohongi Agensi, Kini Dewi Srikandi Berdedikasi Lindungi Calon PMI Jember

Yulio Faruq Akhmadi • Senin, 21 Juli 2025 | 14:35 WIB
AUDIENSI: Dewi Srikandi menjadi salah satu perwakilan Desbumi Dukuh Dempok dalam audiensi dengan kementerian koperasi bersama Migrant Care di Jakarta, beberapa waktu lalu.
AUDIENSI: Dewi Srikandi menjadi salah satu perwakilan Desbumi Dukuh Dempok dalam audiensi dengan kementerian koperasi bersama Migrant Care di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Radar Jember - Adalah Dewi Srikandi, perempuan asal Dukuh Dempok, yang kini mendedikasikan hidupnya sebagai relawan di Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi) Dukuh Dempok.

Dia tak ingin ada PMI lain yang mengulang kisah kelamnya sebagai buruh migran nonprosedural.

Dewi berangkat ke Singapura pada 2010 silam.

Saat itu usianya baru 18 tahun.

Demi mengubah nasib keluarga, dia menurut saja ketika agensi penyalur memalsukan usianya menjadi 23 tahun agar lolos persyaratan.

“Waktu itu hanya ikut saja, tak tahu hak dan kewajiban sebagai PMI,” kenangnya.

Di penampungan, dia dilatih keterampilan dasar rumah tangga mulai dari memasak hingga menggunakan mesin cuci.

Namun, saat wawancara kerja, Dewi ditugaskan merawat nenek lumpuh, pekerjaan yang tak pernah diajarkan kepadanya.

Setibanya di Singapura, potongan gaji yang dijanjikan hanya lima bulan berubah menjadi sepuluh bulan.

Alasannya, agensi mengaku dijebak pihak penyalur di Indonesia akibat manipulasi data umur.

Hari-harinya di negeri orang bak di penjara.

Tak boleh memegang ponsel, tak ada hari libur, makan pun dibatasi hanya semangkuk kecil.

Selama sepuluh bulan pertama, dia hanya mendapat 20 dollar Singapura per bulan dari gaji yang seharusnya 350 dollar per bulan.

Di sisi lain, dia harus merawat nenek majikannya secara autodidak, dari cek gula darah hingga memberi obat.

Pernah suatu kali nenek itu muntah darah hingga polisi datang.

“Kalau salah ngomong sedikit, mungkin nasib saya sudah di penjara,” tuturnya pelan.

Dewi menamatkan kontraknya pada 2013.

Pulang ke kampung membawa tabungan yang cukup untuk membeli sepetak tanah.

Dia kemudian bekerja serabutan sebagai penjaga konter, kasir onderdil, hingga barista kafe.

Hidupnya berubah saat pada akhir 2016 dia diundang ke balai desa untuk sosialisasi Migrant Care yang bekerja sama membangun Desbumi.

Dari situ, Dewi mulai aktif menjadi relawan.

Kini, sebagai Sekretaris Desbumi Dukuh Dempok, dia melayani edukasi migrasi aman untuk calon PMI, membantu cek legalitas P3MI, memastikan dokumen identitas disimpan keluarga, dan menangani kasus PMI hilang kontak atau disiksa.

“Pernah ada yang pulang penuh luka lebam karena disiksa. Setelah dibantu, malah berangkat lagi tanpa prosedur. Itu yang bikin saya nyesek,” ujarnya.

Selain migrasi aman, Dewi juga aktif dalam pemberdayaan ekonomi purna-PMI.

Dia membantu meningkatkan keterampilan mereka agar hasil kerja di luar negeri tak habis sia-sia.

Baginya, apa yang dilakukan sekarang adalah penebusan masa lalunya.

“Saya hanya ingin tidak ada yang mengulang kisah saya. Setidaknya, kalau meninggal di sana, mereka pulang dengan nama dan identitas yang benar,” pungkasnya. (yul/c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#PMI Jember #nonprosedural #pekerja migran #PMI ilegal #buruh migran ilegal