Radar Jember – Empat guru besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember akan dikukuhkan hari ini (3/7/2025), di Gedung Kuliah Terpadu (GKT).
Keempatnya berasal dari lintas keilmuan yang berakar kuat dalam studi keislaman dan kultur kemasyarakatan.
Salah satu yang menarik ialah orasi ilmiyah yang akan dibawakan oleh Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Prof Dr Fawaizul Umam, yang akan dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Filsafat Islam.
Ia membawakan tajuk penelitiannya yang cukup nyentrik dan menggugah, yakni Dari Tuhan yang Dipikirkan, ke Tuhan yang Dirasakan Menuju Tuhan yang Menginspirasi Pembebasan.
Selain Prof Dr Fawaizul Umam, tiga guru besar lain yang turut dikukuhkan adalah Prof Dr Sri Lumatus Sa’adah dalam bidang Hukum Perdata Islam, Prof Dr Kasman dalam ilmu hadis.
Serta Prof Dr Rafid Abbas yang juga menekuni ilmu hadis, khususnya pada kajian hadis Ahkam.
Masing-masing menyampaikan orasi ilmiah yang merupakan puncak dari riset dan kontribusi panjang mereka di bidangnya.
Prof Dr Fawaizul Umam mengatakan, gagasan besarnya dalam hasil penelitiannya ini mengenai pentingnya perubahan paradigma dalam beragama.
Menurutnya, agama tidak cukup hanya dipikirkan secara rasional dan tekstual.
“Beragama itu harus membahagiakan diri sendiri dan juga membahagiakan orang lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, agama yang hanya dipahami secara simbolik tanpa disertai empati bisa menjadi alat yang justru membelenggu.
Hal ini berpotensi dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam institusi keagamaan.
Gagasannya pun mencoba membangun kesadaran spiritual yang membebaskan dan memberi dampak sosial yang positif.
Sebagai contoh nyata, Prof Dr Fawaizul Umam menyinggung fenomena lokal di Jember.
Ia menyoroti kasus-kasus pelecehan oleh oknum ustad atau kiai yang menyalahgunakan simbol keagamaan.
“Agama jangan dijadikan tameng untuk bertindak tak lazim. Ini bentuk penyimpangan yang harus kita lawan dengan kesadaran,” ujarnya.
Lebih jauh, ia juga mengkritisi pemanfaatan kaidah agama dalam mempertahankan dominasi struktur sosial tertentu yang tidak adil.
Menurutnya, jika agama kehilangan nilai-nilai pembebasan, maka ia tidak lagi menyejukkan, justru bisa menjadi alat kekuasaan yang membelenggu.
Menurutnya, agama harus menjadi sumber inspirasi untuk membebaskan manusia dari penderitaan, bukan menambah luka.
“Dari situ, saya ingin membangun narasi baru tentang Tuhan yang memberi harapan dan membebaskan,” pungkasnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh