Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tanpa Gaji Tetap, Ibu Penjual Es Ini Sukses Sekolahkan Anak ke ITB, UGM, dan BSI! Kok Bisa?

Yulio Faruq Akhmadi • Selasa, 24 Juni 2025 | 15:45 WIB
INSPIRATIF: Muhammad Afiq Gibran Alfarabi membantu ibunya mengemas dawet yang dipesan seseorang, di rumahnya Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.
INSPIRATIF: Muhammad Afiq Gibran Alfarabi membantu ibunya mengemas dawet yang dipesan seseorang, di rumahnya Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

Radar Jember - Tak mudah menjadi kepala keluarga perempuan.

Apalagi, Nurul Adibah punya tiga anak.

Namun, ketekunan dan kedisiplinannya mampu membuat anak-anaknya rajin dan kuliah di kampus ternama.

Siang itu, Nurul Adibah dibantu putra sulungnya, Muhammad Afiq Gibran Alfarabi, mengemas es dawet pesanan orang.

Meski hari ini pesanan tak begitu banyak, namun keduanya harus tetap bekerja keras.

Sebab, satu-satunya mesin press yang dimiliki rusak.

Akhirnya, muncul ide dan melakukan pengepresan dengan setrika.

Selain jadi tempat produksi aneka minuman, ruang tamu seluas sembilan meter persegi itu jadi tempat favorit Adibah dan anak-anaknya berbagi cerita.

Terlebih setelah sang suami meninggal 15 tahun lalu.

Kepada anak-anaknya, Adibah yang menjadi tulang punggung ini selalu memberi semangat untuk menguatkan diri, termasuk memberi semangat kepada anaknya.

Adibah bak seorang guru, gerak-geriknya digugu dan ditiru seperti istilah orang Jawa.

Dia tak banyak omong, namun mempraktikkannya untuk memberi contoh kepada anak-anaknya.

Misalnya, dia selalu bangun tidur sebelum Subuh.

Mengerjakan beberapa pekerjaan dan salat Subuh.

Ini pula ditiru oleh anak-anaknya.

Dia kerap meng-upgrade kedisiplinan sang anak, agar senantiasa giat dan rajin, termasuk untuk urusan belajar.

Berkat itu, tiga anaknya bisa kuliah di kampus ternama.

“Anak saya yang pertama namanya Salsa kuliah semester akhir di UGM. Kedua, Sausan kuliahnya di BSI. Sekarang tinggal yang paling bontot, Muhammad Afiq Gibran Alfarabi, baru SMAN 1 Jember sebentar lagi masuk ITB,” katanya.

Tak sedikit orang yang bertanya-tanya, bagaimana Adibah membiayai ketiga buah hatinya di universitas ternama.

Sedangkan penghasilannya dari menjual aneka minuman tak menentu.

Menjawab itu, Adibah menyampaikan, buah hatinya menjalani kuliah dengan beasiswa.

Termasuk si sulung, Afiq, yang telah diterima di ITB dengan jalur prestasi.

“Kalau kakaknya dapat KIPK. Selain itu, kakaknya juga seneng nulis-nulis artikel di media, kalau terbit dapat bayaran. Alhamdulillah, ada saja rejekinya dan selalu diberi kecukupan,” tuturnya.

Adibah yang sehari-hari berjualan minuman di kantin SMPN 12 Jember itu melanjutkan ceritanya.

Dikatakan, dirinya selalu memberi dukungan dan support penuh kepada buah hatinya untuk terus belajar.

Tak heran ketiganya tumbuh menjadi anak yang cerdas.

Selain itu, Adibah juga menuntun agar ketiganya tak meninggalkan ibadah.

Hal itu selaras dengan yang disampaikan guru BK SMAN 1 Jember, Tia Wahyu Lestari.

Dikatakan, semasa Afiq menjadi siswanya, Afiq nyaris tak pernah meninggalkan ibadah sunah salat Duha.

Selain itu, menurut Tia, Afiq merupakan siswa yang santun baik kepada guru maupun teman sebayannya.

“Selain pinter, anaknya juga rajin ibadah, salat Duhur selalu jemaah di awal waktu, terus rajin Duha juga,” tutur Tia.

Tia melanjutkan, selain dikenal santun, Afiq juga merupakan siswa yang cerdas.

Sejak kelas satu, dia selalu menempati peringkat satu di kelasnya.

Afiq juga sering mengikuti berbagai kompetisi intrakurikuler.

“Terakhir dia Juara OSN hingga tingkat provinsi, itu menjadi salah satu faktor penting Afiq lolos ITB,” ujarnya.

Sementara itu, Afiq mengaku beruntung memiliki Ibu yang hebat, kuat, dan pantang menyerah.

Perjuangannya turut membakar semangat Afiq untuk terus belajar.

“Tiap hari saya bangun sebelum subuh untuk bantu ibu menyiapkan jualan, jam belajarnya biasanya setelah magrib sampai jam sembilan malam. Kalau terlalu malam takut besoknya gak bangun,” kata Afiq.

Diterima di kampus ternama membuat Afiq merasa senang sekaligus sedih.

Perasaan yang sama dengan yang dirasakan sang ibu, Adibah.

Sebab, keduanya akan segera berpisah dengan jarak ribuan kilometer.

“Sebenarnya sedih ibu nanti sendirian, tapi mungkin memang ini jalannya, ibu juga mendukung penuh. Jadi tidak ada keraguan untuk lanjut kuliah,” tuturnya. (yul/c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #itb #BSI #ugm #KIPK