Radar Jember - Penanganan kasus angka kematian ibu, angka kematian bayi (AKI/AKB), juga stunting di Jember dinilai cukup kompleks.
Bukan tanpa alasan, ada sederet persoalan yang dirasa sulit diurai.
Membutuh waktu yang lama dan tentu keterlibatan banyak pihak.
Akademisi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember, Awatiful Azza, menguraikan demikian.
Menurut dia, kompleksitas persoalan stunting, AKI, dan AKB, tidak bisa ditangani sepihak atau satu sisi.
Ia menilai, di Jember, dominasi kultural dan budaya, yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup masyarakat masih sangat kuat.
Tidak hanya pada saat ibu melahirkan, tetapi pada saat masa kehamilan.
"Kebiasaan masyarakat yang masih kuat percaya pada budaya turun-temurun, seperti tantangan makan, misalnya ibu hamil tidak boleh makan ikan, itu masih kuat di masyarakat. Nah, budaya seperti itu masih subur," katanya, Minggu (22/6/2025).
Ia juga mencontohkan serupa, saat pengalamannya melakukan pengabdian di sebuah desa di Jember.
Saat itu, ada kepercayaan di masyarakat bahwa melahirkan di puskesmas atau di bidan berarti mengalami kehamilan dan kelahiran yang bermasalah.
Masyarakat menstigma sang ibu pernah melakukan dosa kepada suami atau saudaranya.
"Inilah budaya yang harus diubah itu, dan tidak bisa instan. Butuh waktu, serta peran berbagai elemen masyarakat. Termasuk tokoh masyarakat. Kalau tidak, ya, sebatas program saja," jelas dia.
Azza meyakini, upaya-upaya seperti penyuluhan, edukasi, dan semacamnya, sudah gencar dilakukan.
Dari Dinkes dan satuannya, sampai oleh DP3AKB, yang semua peran itu dinilainya harus berkolaborasi.
Namun, yang tak kalah penting, kata dia, kesadaran masyarakat itu sendiri untuk mengubah budaya kolot tersebut.
Azza menyarankan pemerintah juga melibatkan tokoh masyarakat, seperti tokoh agama.
Selebihnya, ada faktor soal aksesibilitas.
"Karakter masyarakat itu patuh kepada ketokohan, atau tokoh masyarakat. Misal ada pengajian, disisipkan dengan pendekatan kesehatan. Saya belum menemukan hal seperti itu. Mungkin itu efektif, tapi saya jarang menemukan. Dan itu bisa diriset dulu, efektivitasnya," jelas Azza.
Lebih lanjut, Azza juga menegaskan bahwa penanganan AKI, AKB, dan stunting, tidak terlepas dari persoalan hulu, yakni masifnya angka pernikahan dini atau usia muda di Jember.
"Jember ini, topografinya juga, ada budaya pernikahan dini yang tinggi sekali. Jadi, gimana mau merawat anak, kalau merawat diri saja susah? Itu mengapa intervensinya bisa dimulai dari hulu, mengedukasi pernikahan dini dulu, karena kalau sudah stunting tidak bisa diapa-apain. Hanya bisa memberi stimulasi tumbuh kembang anak saja," imbuh Azza. (mau)
Editor : Imron Hidayatullahh