Radar Jember - Serangan tikus kian hari makin merajalela di areal persawahan Desa Glagahwero, Kecamatan Panti.
Para petani bersama penyuluh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Jember melakukan pengendalian masal terhadap hama tikus dengan cara membakar sarangnya agar tikus mati.
Uniknya, pengendalian masal menjelang masa panen padi itu dilakukan dengan alat rakitan berbahan bakar LPG, kemarin (16/6).
Pemerintah perlu mengkaji ini, apakah pengendalian pakai LPG efektif atau tidak.
Jika efektif, maka bisa memproduksi LPG lebih banyak dan dialokasikan untuk pemusnahan hama tikus.
Sementara jika tidak, perlu penyetopan pemakaian LPG karena sejatinya untuk keperluan memasak di dapur.
Kepala Desa Glagahwero Suryo menjelaskan, pembasmian hama tikus dilakukan dengan cara menyemburkan api ke dalam lubang tikus yang sebelumnya telah diisi belerang.
“Asap pembakaran belerang akan menyebar ke dalam sarang tikus, sehingga tikus akan keluar atau mati lemas. Kalau keluar ada yang siap mukul,” terangnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, para petani begitu kompak berjibaku membasmi hama tikus.
Mereka terbagi ke dalam tiga tim.
Dalam setiap tim ada peran masing-masing.
Ada yang bertugas membawa tikus hasil tangkapan dan belerang.
Ada yang bertugas menyemburkan api ke dalam lubang tikus.
Tak kalah penting, ada yang bersiaga menangkap tikus yang keluar dari sarang.
Sementara itu, petani setempat, Qodir, menyampaikan bahwa pengendalian hama harus dilakukan dengan terstruktur dan hati-hati.
Setiap area harus disisir, sebab apabila ada area yang terlewat maka tikus tidak akan terbasmi sepenuhnya dan memungkinkan kembali berkembang biak.
Selain itu, pembasmian juga dilakukan dari area yang terjauh dari lahan pertanian jagung.
Hal ini dimaksudkan agar tikus tidak beralih menyerang lahan jagung.
“Kalau sudah pindah ke lahan jagung tambah repot, tikusnya akan bikin sarang di tengah-tengah lahan dan sulit dideteksi,” katanya.
Di tempat yang sama, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Bangsalsari DTPHP Jember, Tri Kurnia Pamungkas, menyampaikan, Desa Glagahwero merupakan wilayah kesekian yang terserang hama tikus.
Menurutnya, serangan hama tikus telah berlangsung selama empat musim yang terjadi di Kecamatan Bangsalsari, Panti, dan Rambipuji.
“Awalnya di Kemuning Panti, kemudian kecamatan di sekitarnya juga terserang tikus,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan telah dilakukan secara masif mulai dari penggunaan bahan kimia, hingga penangkapan secara mekanis menggunakan api dan belerang.
“Hanya saja, yang masih banyak digunakan masyarakat itu adalah penggunaan racun kimia. Itu tidak kami sarankan karena tidak ramah terhadap lingkungan, yang kami sarankan adalah pengendalian secara mekanis seperti ini karena tidak berdampak negatif,” katanya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh