Radar Jember - Berangkat haji identik dilakukan oleh orang kaya.
Namun, tidak semua orang kaya mampu naik haji.
Di Jember, ada nenek difabel yang mampu ke Tanah Suci berkat kegigihannya bertahun-tahun.
Impiannya menunaikan rukun IsIam kelima terwujud.
“Alhamdulilah atas segala limpahan karunia dari Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berhaji di Tanah Suci,” ucap Muayatur Rohmah, kepada wartawan.
Ia seperti tidak henti-hentinya mengucapkan tasbih sebagai wujud syukur karena impiannya selama bertahun-tahun itu kini segera ia wujudkan.
Dibantu sejumlah jamaah haji lainnya, Muayatur menjadi satu-satunya jamaah haji yang berangkat haji menggunakan kursi roda.
Meski di tengah keterbatasan pada kedua kakinya yang tidak sempurna, perempuan lansia asal Kecamatan Mumbulsari, Jember, ini bisa mendapatkan panggilan Tuhan ke Tanah Suci, Makkah.
Ia tergabung dalam kloter 32 Embarkasi Surabaya.
Di balik keberkahan bisa berangkat haji itu, terselip perjuangan panjannya.
Muayatur diketahui berlatarbelakang keluarga sederhana.
Sehari-hari di rumahnya ia bekerja sebagai penjahit.
Upahnya yang tidak seberapa memaksanya harus bisa menyisihkan untuk tabungan haji.
Dan itu dilakukannya bertahun-tahun.
Begitu dirasa cukup, ia mendaftar haji pada tahun 2012 lalu.
"Saya tabung sedikit demi sedikit, punya uang 50 ribu, 100 ribu atau berapa pun. Niatnya agar bisa mendaftar haji," aku nenek berusia 77 tahun itu.
Penghasilannya dari menjahit yang tidak seberapa juga memaksa Muayatur memutar otak.
Ia diketahui masih memiliki aset sawah yang selalu ia sewakan untuk menambal biaya pelunasan haji, serta kebutuhannya sehari-hari.
Terlebih, Muayatur tinggal di rumahnya dan biasa dibantu oleh keponakannya, yang telah ia rawat sejak kecil hingga telah berumah tangga.
Sementara sang suami sudah tutup usia sejak lama.
Perjuangan Muayatur tampaknya belum terhenti.
Menjadi satu-satunya jamaah lansia difabel, ia sering kali kesulitan beraktivitas.
Seperti saat hendak memasuki bus menuju Bandara Juanda, yang membuatnya harus menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan.
Beruntungnya, ia dibantu petugas menggunakan kursi roda.
"Walaupun kondisi saya seperti ini, saya masih punya semangat. Saya tidak ingin merepotkan sepupu saya yang setia menemani saya selama perjalanan ini, semua saya niatkan untuk ibadah kepada Allah," tambah Muayatur.
Kabar keberangkatan Muayatur ke Tanah Suci itu juga dibenarkan oleh Plh Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya Sugiyo.
Menurutnya, disabilitas fisik bukan penghalang untuk menunaikan haji.
Ia mengapresiasi semangat Muayatur yang sangat memotivasi.
"Saya pikir ini motivasi yang luar biasa, apalagi di masyarakat Jember, ibadah haji merupakan hal yang sakral," katanya.
Kini, Muayatur telah berada di Tanah Suci bersama kloter 32, bersama sepupunya.
Perjuangan dan kegigihannya telah menembus batas-batas kenormalan peribadatan haji yang selalu identik dilakukan oleh orang kaya. (mau/c2/nur)
Baca Juga: Polres Jember Bongkar Lima Lokasi Diduga Arena Sabung Ayam, Ini Lokasinya!
Editor : Imron Hidayatullahh