Radar Jember – Tingginya angka kecelakaan tunggal di tikungan Mbah Singo, Km 36.800, Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, disebabkan oleh sejumlah faktor.
Di antaranya adalah sopir yang kurang mengenal medan, muatan berlebih (overload), serta kondisi jalan yang terlalu miring.
Dalam tiga pekan terakhir, tercatat sudah terjadi empat kali kecelakaan.
Mayoritas melibatkan truk bermuatan berat yang melaju dari arah Jember menuju Banyuwangi.
Beberapa di antaranya adalah truk pengangkut tebu dan truk bermuatan kotoran ayam yang akan digunakan sebagai pupuk kandang.
Beruntung, kecelakaan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Jalur Gumitir, yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi, saat ini semakin padat oleh lalu lintas truk pengangkut tebu menuju Industri Gula Glenmore (IGG) di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi.
Tak hanya truk biasa, tetapi juga truk gandeng bermuatan berat kerap melintasi jalur penuh tikungan ini.
Selain faktor manusia, kondisi fisik jalan di Km 36.800 juga menjadi perhatian.
Jalan aspal di titik tersebut sangat miring, ditambah lagi dengan munculnya retakan baru yang cukup dalam.
Saat melintasi tikungan pertama, sopir truk berat harus mengambil jalur sebelah kiri karena retakan yang menyebabkan permukaan jalan tidak rata.
Sebelumnya, retakan di tikungan tersebut sudah sempat ditambal oleh Dinas PU Bina Marga Provinsi.
Namun, menurut Relawan Gumitir, Wijianto, penanganannya belum memadai.
“Seharusnya retakan itu jangan hanya ditutup bagian atasnya saja. Karena akan percuma kalau hanya dilapisi di atas retakannya. Ternyata benar jalan yang retak dan dilapisi itu sudah miring,” katanya.
Retakan baru yang lebih parah kini terlihat jelas di tikungan pertama Mbah Singo.
Retakan tersebut memanjang dan sangat terlihat di bagian tengah jalan, tepat di garis marka berwarna kuning.
Kondisi ini membuat aspal semakin miring dan meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi truk berat dari arah Jember.
Kanit Lakalantas Polres Jember Ipda Tommy Nur Alamsyah, didampingi Kanitlantas Polsek Silo Aipda Dwi Cahyo Utomo, melakukan peninjauan kembali ke lokasi retakan, Senin (26/5/2025).
Mereka menemukan bahwa retakan tak hanya berada di garis marka tengah, tetapi juga muncul retakan baru yang cukup panjang.
“Ketika sopir truk bermuatan berat di jalan yang menikung pertama itu pasti akan ambil haluan di jalan sebelah kanan. Padahal, jalan aspal sangat terlihat cukup miring karena adanya retak tersebut,” kata Tommy.
“Awalnya retakan di garis marka tengah itu pernah ditutup. Karena yang lewat banyak kendaraan besar dan muatan berat, maka tidak bertahan lama,” lanjutnya.
Kecelakaan yang terjadi pada Minggu (25/5/2025) dan Senin (26/5/2025) melibatkan truk pengangkut tebu dan truk bermuatan kotoran ayam.
“Jalur Gumitir sempat macet total,” katanya.
Tommy menambahkan bahwa salah satu penyebab utama seringnya kecelakaan tunggal di tikungan Mbah Singo adalah kemiringan jalan aspal, yang diperparah dengan adanya retakan sepanjang tikungan.
Baca Juga: Bahayakan Pengguna Jalan, Tiang PJU di Jalur Gumitir Jember Akhirnya Diganti
“Kami sudah koordinasi dengan Plt PU Bina Marga Provinsi, Pak Satya, dan Dinas Perhubungan. Insyaallah, Senin depan akan dilakukan survei jalan di Km 36.800,” jelasnya.
Kasatlantas Polres Jember AKP Bernardus Bagas Simarmata menyampaikan bahwa Kanit Laka sudah berkoordinasi dengan Dinas PU Bina Marga Provinsi dan Dinas Perhubungan terkait tingginya angka kecelakaan di jalur tersebut.
Menurutnya, temuan di lapangan menunjukkan adanya kemiringan jalan aspal yang membahayakan.
Ia berharap segera ada tindakan dari dinas terkait.
Bagas juga mengimbau para sopir truk bermuatan berat yang menuju Banyuwangi agar lebih berhati-hati.
“Kami akan membuat imbauan kepada sopir di titik yang rawan kecelakaan. Imbauan itu akan dipasang di Jalur Gumitir yang dikenal dengan banyak tikungan dan jalan naik turun,” jelasnya.
(jum/c2/nur)