Radar Jember- Pengalaman pahit benar-benar dialami dua anak buah kapal (ABK), Senin (19/5) lalu.
Dua orang ini bertaruh nyawa demi kabur dari kejamnya dunia kerja di lautan.
Dua orang ini adalah Sutiyadi, 26, warga Desa Karangsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, dan Muhammad Julianda Gibran, 21, warga Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Sutiyadi dan Gibran menyatakan kapok dan tak ingin mengulangi apa yang dialaminya.
Keduanya menceritakan mengapa sampai terdampar di Pulau Nusa Barong yang tak berpenghuni itu.
Dikatakan, awalnya kedua pria ini mencari pekerjaan.
Sutiyadi dan Gibran mendapatkan informasi dari media sosial (medsos) tentang adanya lowongan pekerjaan.
Informasi itu juga menyebut penghasilan yang dijanjikan, cukup menggiurkan.
Sutiyadi menyebut, jika ikut kapal pencari ikan, maka dijanjikan akan mendapatkan upah sebesar Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta per bulan.
Dia bersama Gibran dan puluhan orang lain pun ikut rekrutmen berdasar informasi lowongan kerja tersebut.
Begitu ikut, kedua pria ini mulai curiga.
Saat itu, kapal keduanya telah berlayar.
Setelah di tengah laut, keduanya diberi tahu bahwa perjalanan kapal tidak seperti rencana awal.
Bukan 4 bulan seperti dijanjikan, melainkan berubah menjadi 10 bulan.
Bahkan, upah sebesar Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta per bulan juga berubah.
Menurut Sutiyadi, saat di atas kapal itu, para pekerja diberi tahu bahwa upahnya dibayarkan sesuai hasil tangkapan ikan.
“Itu masih dipotong dengan kebutuhan di kapal,” ucapnya.
Sekitar sepekan di atas kapal, suasana kerja sudah tak nyaman.
Ini karena ada perubahan waktu dan upah.
Sutiyadi dan Gibran selanjutnya merencanakan untuk kabur dari pekerjaan yang tidak manusiawi tersebut.
Sutiyadi dan Gibran sebenarnya ingin melompat di perairan Selat Bali.
Namun, rencana itu urung dilakukan karena keduanya takut dengan informasi yang menyebut kedalaman laut Selat Bali sedalam 6.000 meter.
Nah, begitu kapal melintas di dekat Pulau Nusa Barong, saat itulah keduanya menganggap bahwa itu adalah peluang emas untuk kabur dari pekerjaan yang tak sesuai ekspektasi itu.
Dengan jarak 2 mil dari bibir pantai, Sutiyadi dan Gibran nekat melompat.
Dua orang ini sebelumnya mengambil plastik pembungkus ikan.
Satu dipakai sebagai pelampung oleh Sutiyadi.
Sementara, satu plastik lagi dipakai oleh Gibran untuk membungkus dua tas, sekaligus dijadikan pelampung.
Saat itulah keduanya memutuskan lompat ke laut.
Demi menyelamatkan nyawa, keduanya bergantian berenang.
Saat Sutiyadi berenang, Gibran pasrah untuk didorong atau ditarik menuju tepi pantai.
Demikian sebaliknya, saat Gibran berenang, dia menarik atau mendorong Sutiyadi menuju tepi pantai.
Keduanya berenang sekitar dua jam.
Sampai akhirnya mendarat di pulau tak berpenghuni, Nusa Barong.
Di kawasan tepi pantai itu keduanya terkejut.
Gibran selanjutnya memfungsikan HP yang tak ikut disita karena disembunyikan.
Sementara, dua HP lain milik keduanya disita.
Berbekal satu HP itulah keduanya menghubungi teman di rumah.
Kasus ini selanjutnya sampai ke damkar, hingga ditangani di Jember.
Sutiyadi dan Gibran berhasil dievakuasi personel Satgasmar Pengamanan Pulau Terluar (Pam Puter), Senin (19/5/2025).
Keesokan harinya, keduanya dibawa ke Pos AL di Puger.
Kasat Polair Polres Jember dan Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Banyuwangi kemudian juga tiba di sana.
Sutiyadi mengaku, ini pengalaman hidup yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.
“Pekerjaan yang dilakukan di kapal pencari ikan ini merupakan pengalaman pahit kami,” katanya.
Dia berharap, ke depan tidak akan ada kejadian serupa yang dialaminya.
“Cukup kali ini aja,” ucapnya, kemarin.
Dia pun bersyukur dan mengucapkan terima kasih karena telah diselamatkan anggota marinir di pulau yang tak berpenghuni itu.
Dikatakan, dia sempat mendapat tawaran kerja di scaffolding menjadi petugas pembersih kaca di gedung-gedung tinggi.
Namun, dia ragu karena honornya kecil dengan syarat tertentu.
Dia juga menyesal telah ikut kapal pencari ikan.
“Dari pengalaman ini, saya akan cari kerja yang aman saja di darat,” jelas Sutiyadi.
Hal serupa juga disampaikan Gibran.
Pemuda berambut keriting itu berharap bisa kembali dan berkumpul dengan keluarga dan memulai hidup baru.
“Saya berterima kasih kepada pihak terkait seperti anggota Marinir Satgasmar Pulau Nusa Barong dan Satpolair yang sudah mengevakuasi ke tempat yang aman dan akan memulangkan kami,” kata Gibran.
Rencananya, kedua warga korban penipuan kerja itu akan dipulangkan menggunakan travel.
Keduanya tidak naik kereta api, karena dokumennya tidak ada, termasuk KTP yang ditahan pihak perusahaan.
Setelah ada pelimpahan dari Pos AL di Puger, kemarin, keduanya sudah berada di Satpolair Polres Jember.
Keduanya juga dimintai keterangan seputar kasus tersebut.
“Kami ingin pulang. Kumpul keluarga lagi,” ucap Gibran.
Menanggapi kejadian ini, Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Banyuwangi Letkol Laut (P) M. Puji Santoso meminta seluruh masyarakat agar berhati-hati dalam menerima tawaran kerja.
Apalagi hanya lewat chat, medsos, atau dari orang yang tidak jelas, terutama di sektor kelautan.
“Harapannya dengan adanya kejadian ini menjadikan pelajaran bagi masyarakat. Agar tidak serta-merta menerima tawaran kerja dengan iming-iming gaji besar, sementara datanya (informasi perusahaan, Red) juga belum jelas,” imbaunya.
Menurutnya, setiap pekerjaan di laut juga ada perjanjian kerja laut.
Ini untuk menjamin hak dan kewajiban, serta melindungi pekerja.
“Setiap pekerjaan di laut ada perjanjian kerja yang mengatur hak dan kewajiban antara perusahaan dan pekerja,” pungkas Puji.
Pengalaman dua pemuda ini, kiranya menjadi pelajaran penting agar ke depan tak ada warga yang mengalaminya. (jum/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh