Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jalur Gumitir Jember: Jalan Berkelok, Aroma Alam dan Seduhan Kopi Keliling, Begini Cerita Unik dan Khasnya!

Imron Hidayatullahh • Kamis, 15 Mei 2025 | 15:00 WIB

JALAN HIDUP: Rocky Firmansyah, pemuda penjual kopi keliling ini cukup viral berkat pembeli sering mengunggah kawasan tempat ngopi ke media sosial. (JUMAI/RADAR JEMBER)
JALAN HIDUP: Rocky Firmansyah, pemuda penjual kopi keliling ini cukup viral berkat pembeli sering mengunggah kawasan tempat ngopi ke media sosial. (JUMAI/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Jalur Gumitir dikenal dengan banyaknya tikungan tajam serta kondisi jalan yang naik turun.

Di sisi jalur ini terdapat bukit dan tebing yang menjulang.

Jalan penghubung Jember–Banyuwangi ini juga terkenal dengan jurang yang cukup curam.

Oleh karena itu, setiap pengendara yang melintasi jalan nasional ini harus berhati-hati.

Melintasi jalanan Gumitir yang masuk wilayah Dusun Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, para pelintas bisa menikmati keindahan alam sekitar.

Udara di kawasan ini terasa lebih sejuk dibandingkan dengan daerah kota Jember, karena jalurnya melintasi area dekat puncak Bukit Gumitir.

Awalnya, hanya ada beberapa warung di sepanjang jalur ini.

Namun kini, semakin banyak pemilik warung yang menetap di sana dan menjadikannya tempat tinggal kedua.

Tak sedikit warga yang bahkan tinggal bersama keluarganya.

Belakangan, mulai bermunculan pula penjual kopi keliling (koling) yang menggunakan sepeda motor.

Para penjual ini menyiapkan tempat duduk sederhana.

Lengkap dengan payung atau terpal, agar pembeli bisa bersantai di pinggir jalan tanpa kehujanan atau kepanasan.

Salah satu penjual koling itu adalah Rocky Firmansyah, 23, pemuda asal Desa Garahan, Kecamatan Silo.

Ia biasa berjualan di Km 36.800 dan kadang berpindah ke Km 34.400.

Sepeda motor Honda Prima miliknya dimodifikasi dengan kotak kayu sebagai tempat kompor mini untuk merebus air dan menyeduh kopi.

Rocky menceritakan bahwa awal mula ia berjualan adalah di sekitar tikungan leter S atau tikungan Mbah Singo.

“Satu per satu pelanggan mulai datang. Terutama anak-anak muda atau klub sepeda motor,” ujarnya.

Saat itu, ia hanya berbekal karpet kecil sebagai alas duduk.

Lokasinya memang asri dan berada di pinggir tikungan.

“Suasananya nyaman, banyak anak muda yang mampir,” katanya.

Namun, karena di lokasi tersebut sering terjadi kecelakaan—terutama truk terguling—Rocky disarankan untuk mencari tempat baru.

“Kanit Lantas Polsek Silo Aipda Dwi Cahyo Utomo memberi tahu di sini sering kecelakaan. Jadi, disarankan untuk mencari tempat baru,” katanya.

Akhirnya, Rocky pun mencari lokasi yang lebih aman dan asri.

Kini, ia sering mangkal di Km 34.300.

Di tempat ini, para pengunjung bisa melihat lalu-lalang kendaraan di jalur yang penuh kelokan itu.

Lokasi ini pula yang membuat nama Rocky Firmansyah semakin dikenal.

Lantaran banyak orang yang mampir ngopi, kemudian mengunggah foto dan video di media sosial.

Rocky bisa dibilang pekerja keras.

Setelah lulus dari SMPN 3 Silo, ia sempat menjadi kuli bangunan di Bali.

Namun, setahun kemudian ia pulang kampung dan memulai usaha sendiri.

Dengan modal kecil dan motor tua, ia memulai usaha koling.

Kini, selain kopi, ia juga menjual nasi jagung bungkus, serta aneka camilan.

Kini Rocky tidak sendiri.

Ia ditemani oleh sepupunya, Surya.

Setiap hari, mereka mulai berjualan pukul 08.00 hingga sore atau menjelang Magrib.

“Kalau hujan deras, pulang lebih awal. Tapi setelah pembeli tidak ada,” ucapnya.

Rocky tinggal bersama ibunya, Misni, 45, dan neneknya, Saripa, 55.

Adiknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.

Sementara, kakak pertamanya telah meninggal dunia.

Saat ini, Rocky cukup dikenal.

Banyak pengunjung yang mengunggah foto atau video ketika mampir ngopi di tempatnya.

Baik di Instagram maupun TikTok.

Berkat itu, semakin banyak anak muda yang datang.

Namun, tak selalu berjalan mulus.

“Kadang di lokasi ini, ada saja orang yang iseng, dengan merusak kursi bambu,” katanya.

Meski begitu, ia tetap sabar dan memperbaikinya kembali demi bisa terus berjualan.

Sesekali, ada juga orang yang memberi gelas atau sekadar mengabadikan suasana alam di kawasan itu.

Rocky menyadari, berjualan di tempat umum yang jauh dari permukiman memang butuh kesabaran.

Awalnya sangat sepi, namun saat ini sudah banyak yang mengenalnya.

 “Pelayanan kepada orang yang datang harus ramah,” pungkasnya. (jum/c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#tikungan mbah singo #Jember #Jalur Gumitir #kopi keliling #Kopi #kecamatan silo