Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pemerintah Harus Bersiap Menyambut Panen Raya di Jember, Guru Besar Unej Sebut Petani Ingin Kontan, maka Sarpras Harus Siap

Imron Hidayatullahh • Senin, 12 Mei 2025 | 15:00 WIB
Prof Soetriono, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
Prof Soetriono, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Program penyerapan gabah oleh Bulog langsung dari petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram membawa angin segar bagi para petani.

Mereka tak lagi bingung atau khawatir kesulitan menjual padi saat panen raya.

Kendati sudah berjalan cukup baik, pemerintah harus tetap bersiap menyambut panen raya yang akan segera tiba.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) Prof Soetriono menjelaskan, serapan gabah petani di Jember saat ini sudah melampaui 100 persen.

Namun, pemerintah perlu memastikan kesiapan sarana dan prasarana untuk menyimpan gabah hasil panen, termasuk gudang dan tempat pengeringan.

“Panen itu kan berlangsung sekitar tiga bulan. Diharapkan Bulog dan Dolog bisa menyiapkan stok untuk setidaknya enam bulan, sehingga jika terjadi gagal panen, kita tidak perlu risau,” ujarnya.

Tak kalah penting, pria yang akrab disapa Prof Tri itu juga menyampaikan, banyak petani mengharapkan pembayaran secara tunai atau cash and carry untuk gabah mereka.

Dia menyarankan agar Bulog menyiapkan dana yang cukup. Sebab, petani begitu membutuhkan dan atribut untuk memulai penanaman kembali.

“Petani biasanya menunggu hasil panen selama tiga bulan, jadi mereka butuh kepastian harga, tempat penampungan, dan pembayaran langsung,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof Tri menekankan pentingnya peran Bulog dan Dolog (Depot Logistik) sebagai buffer stock atau cadangan pangan nasional.

Namun, dia juga mengingatkan agar Bulog tidak mengulangi kesalahan masa lalu, di mana beras kualitas rendah beredar karena terlalu lama disimpan dan diputar antargudang.

“SOP harus jelas jika melibatkan pihak swasta, seperti Perpadi, untuk memastikan petani tidak dirugikan,” katanya.

Dia menambahkan, meski terkadang pemerintah melakukan impor beras, sebaiknya stok tersebut tidak digunakan untuk konsumsi langsung.

Melainkan sebagai cadangan untuk operasi pasar atau jika terjadi lonjakan harga.

“Itu pun bisa dilakukan saat kepepet, misalnya saat gagal panen,” kata pria yang sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian Unej itu.

Tak kalah penting, Prof Tri juga menyoroti pentingnya memperkuat kelembagaan petani agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih baik.

“Jika kelompok tani bisa membuat kesepakatan untuk menjual gabah dengan harga yang disepakati, misalnya Rp 6.500 per kilogram, ini akan memperkuat bargaining position petani,” tambah pria yang juga merupakan pegiat olahraga tenis itu. (yul/c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Pemkab Jember #Pupuk Subsdidi #serapan gabah #hpp #petani jember