GUMUKMAS, Radar Jember - Polemik keberadaan perusahaan tambak yang beroperasi di sepanjang pesisir pantai selatan Jember sejauh ini belum menemukan titik terang.
Meski beberapa kali didemo, dibawa rapat ke DPRD, sampai dilakukan inspeksi mendadak (sidak) beberapa kali, persoalan tambak belum juga klir.
Bahkan terus mengemuka.
Terbaru, Pemkab Jember mengerahkan sejumlah pimpinan OPD untuk rame-rame turun langsung ke lokasi ke sekitar kawasan tambak raksasa, di sekitar Desa Kepanjen dan Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Kamis (8/5).
Inspeksi itu kelanjutan dari aduan warga yang mengeluhkan limbah perusahaan tambak yang ditengarai dibuang serampangan ke sungai.
Hingga mencemari ekosistem sungai yang digunakan warga untuk mengairi sawah.
Saat itu, tim yang diketuai Asisten 3 Pemkab Jember Harry Agus Triono mengecek kondisi sawah dan perairan di sungai sekitar kawasan tambak yang diduga telah tercemar.
Mereka juga mengambil sampel air di tiga tempat berbeda untuk uji lab.
"Kami datang ini, kami coba nyari data di lapangan. Kami minta juga beberapa keterangan dan informasi yang ada," kata Harry saat memimpin tim/rombongan itu.
Sedikitnya, beberapa pimpinan OPD yang terlibat saat itu cukup gemuk.
Mulai dari DLH, DTPHP, Disperikel, satpol PP, Inspektorat, Bakesbangpol, Kominfo, muspika dan pemdes setempat, sampai akademisi.
Tidak ketinggalan, Wakapolres Jember dan perwakilan/UPT dari Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jatim.
Harry mengakui, sejauh ini Pemkab Jember belum memutuskan langkah terhadap persoalan limbah dan aktivitas perusahaan tambak di sekitar lokasi itu.
Ia merasa perlu menghimpun data secara komprehensif dulu.
"Data ini kami bahas dan kaji dulu, nanti kami sampaikan ke pimpinan, dan ini juga melibatkan institusi vertikal. Jadi, ini masih pengumpulan data dulu. Mudah-mudahan nanti akan menjadi masukan untuk pengambilan kebijakan agar tepat," tambah Harry.
Syahrir, salah satu perwakilan warga setempat saat itu, menyebut dampak limbah perusahaan tambak udang itu tidak hanya mencemari lahan pertanian sekitar 800 hektare di sekitar lokasi.
Namun, juga mematikan nelayan pencari udang.
Bahkan, kata dia, ada hewan ternak yang minum air sungai yang tercemar limbah tambak, tak berselang lama mati.
"Ya, itu wis, intinya ditutup saja tambaknya. Kalau masih beraktivitas, lahan pertanian tetap tidak bisa ditanami," harapnya. (mau/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh