PUGER KULON, Radar Jember – Dua hari terakhir, cuaca ekstrem menyebabkan gelombang tinggi di wilayah pantai selatan Jember, dengan ketinggian ombak mencapai 2,5 hingga 2,7 meter.
Kondisi ini mendorong perlunya kewaspadaan dari seluruh nelayan, pemancing, serta masyarakat yang beraktivitas di laut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya bahkan memprediksi bahwa potensi gelombang dapat mencapai 2,9 meter, dan dalam kondisi tertentu bisa lebih tinggi lagi.
Oleh karena itu, Satuan Polisi Air (Satpolair) Polres Jember mengimbau agar nelayan tidak melaut untuk sementara waktu.
Imbauan ini juga berlaku bagi pemancing dan warga yang biasa beraktivitas di laut.
Kendati demikian, sebagian nelayan masih nekat melaut.
Nelayan yang sudah terlanjur pergi pun harus menunggu air laut pasang agar dapat melewati plawangan yang dikenal berbahaya.
Kepala Bagian Operasi (KBO) Satpolair Polres Jember Aiptu Agus Rianto mengimbau agar nelayan di Puger tidak melaut karena cuaca ekstrem yang terjadi sejak Selasa (6/5/2025) hingga Rabu (7/5/2025).
“Dua hari ini, ketinggian ombak mencapai 2,5 meter hingga 2,7 meter, jadi sangat tinggi. Lebih baik nelayan tidak memaksa melaut. Tunggu sampai ombak tidak ekstrem,” ungkapnya.
Walau imbauan telah diberikan, sebagian nelayan tetap nekat melaut.
“Nelayan Puger tidak takut dengan mati, tetapi takut dengan lapar. Itu sudah menjadi semboyan nelayan Puger. Meku begitu, kami imbau agar tidak melaut dulu,” kata Agus kepada Jawa Pos Radar Jember.
Menurutnya, mayoritas nelayan memang memilih tidak melaut selama dua hari terakhir.
Jukung dan perahu terlihat banyak diparkir di muara sungai maupun di sekitar dermaga.
“Kalau nelayan yang sudah tahu prediksi ombak besar melalui HP, mereka memilih tidak berangkat. Sebagian yang tidak melaut memilih memperbaiki jukung dan jaring,” tambahnya.
Agus menjelaskan bahwa sebagian nelayan yang nekat tetap melaut biasanya menggunakan jukung atau kapal sekoci.
Baca Juga: Pencarian Candra Korban Laka Laut di Pantai Bambang Lumajang, Diperluas ke Kawasan Jember
Bahkan, ada kapal sekoci yang masih bertahan di tengah laut karena belum bisa merapat ke pantai.
“Kondisi ombak di plawangan besar. Sehingga harus menunggu ombak reda, baru bisa pulang,” jelasnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember menunjukkan bahwa di ujung breakwater atau pemecah ombak di Puger, yang biasanya dipenuhi pemancing, kali ini tampak sepi.
Hanya dua pemancing yang terlihat berada jauh dari bibir pantai. (jum/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh