Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Mantan Sopir Lintas Jawa–Bali–Sumatra Jadi Relawan Gumitir, Sigap Update Kondisi Jalur Gumitir Jember

Imron Hidayatullahh • Rabu, 7 Mei 2025 | 12:00 WIB
MENGABDI: Wiji Hariyanto dengan sepeda motornya di Jalur Gumitir, kemarin. (JUMAI/RADAR JEMBER)
MENGABDI: Wiji Hariyanto dengan sepeda motornya di Jalur Gumitir, kemarin. (JUMAI/RADAR JEMBER)

SIDOMULYO, Radar Jember - Di kalangan sopir, nama Wiji Hariyanto cukup dikenal.

Terutama bagi para sopir yang sering melewati dan terkendala di Jalur Gumitir, penghubung Kabupaten Jember dengan Banyuwangi.

Di jalan ini, Wiji menjadi relawan yang banyak membantu.

Hampir setiap hari dirinya ada di Gumitir.

Untuk menginformasikan situasi dan kondisi jalan yang berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, itu.

Pria yang tinggal di Dusun Sumber Mulyo, Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, ini sudah cukup lama mengabdikan dirinya untuk membantu para sopir.

Hampir setiap hari pula, sejak pagi hingga malam, dirinya selalu memberikan informasi penting mengenai kondisi Gumitir.

Mulai dari adanya insiden kecelakaan, kemacetan panjang, pohon tumbang dan tanah longsor, hingga informasi lain yang penting.

Sebelum menjadi relawan, pria kelahiran 1982 itu dulunya menjadi sopir lintas Jawa, Bali, hingga Sumatra.

Kemudian, Wiji mulai menjadi relawan Gumitir setelah mendapatkan restu dari istrinya, Evi Eka Wandira, 33.

Juga dari kedua anaknya.

“Yang jelas, waktu untuk bersama keluarganya juga berkurang. Setiap hari saya memberikan informasi kepada kepolisian dan para sopir,” katanya.

Alasan inilah yang menjadikannya berhenti dari pekerjaan sopir dan memilih menjadi relawan.

Waktu untuk keluarga otomatis banyak terbuang, karena setiap hari ia memilih wira-wiri di jalur Gumitir.

Menginformasikan kepada kepolisian, baik ke anggota Polsek Kalibaru maupun Polsek Silo, update kondisi Gumitir.

Wiji bisa dibilang tak mengenal waktu

Saat ada kejadian kecelakaan atau pohon tumbang, ia selalu turun untuk menginformasikan kepada petugas polsek maupun di grup WA sopir yang melintas di Jalur Gumitir.

Namun, di sisi lain, dia ingin mengabdi kepada orang tuanya yang sakit.

Setelah setahun merawat ibunya sampai selesai operasi, jiwa jalannya seperti memberontak, ingin turun ke jalan lagi.

Dalam kejenuhan tersebut, dia wira-wiri Gunung Gumitir untuk membagikan informasi kepada rekan sopir yang awalnya satu komunitas.

Dia pun bergabung dengan tim reaksi cepat Banyuwangi waktu itu.

Dengan menjadi relawan Gumitir, dia pun bisa berkoordinasi dengan jajaran Polsek Kalibaru, Banyuwangi, dan Polsek Silo, Jember.

“Awal mula, ada kecelakaan lalu lintas di area Gunung Gumitir, masuk Kecamatan Kalibaru. Saat itu saya ikut membantu mulai dari pengaturan lalu lintas sampai penanganan lain-lain. Kemudian, bertemu dengan Kanit Lantas Polsek Kalibaru dan berlanjut menjalin komunikasi,” jelasnya.

Sejak itu, dia sering menginformasikan kejadian menonjol di Jalur Gumitir.

Beberapa lama kemudian, dia masuk dalam grup Info Jalur Gumitir.

Di dalam grup tersebut banyak jajaran kepolisian dari Banyuwangi dan Jember.

Setelah berjalan lama dan sering membantu dan memberikan informasi, dia pun diminta membentuk rekan awe-awe yang biasa turun di Gumitir untuk membantu terjadinya kecelakaan dan bencana alam.

“Relawan awe-awe Gumitir yang mempunyai jiwa sosial tinggi, dijadikan relawan Gumitir,” ungkapnya.

Wiji saat itu menggunakan kendaraan sepeda motor Honda Revo tahun 2010 untuk operasional dan memonitor kejadian khusus di Jalur Gumitir.

Dengan bekal sepeda motor tersebut Wiji bisa berpatroli lintas Jalur Gumitir.

Sehingga bisa menginformasikan kepada jajaran Polsek Silo dan Polsek Kalibaru.

Setelah menjadi relawan dan terus memantau perkembangan terkini Jalur Gumitir yang dikenal dengan banyak tikungan itu, ia bisa menjadi penyambung lidah.

Saat itu juga ia lebih dikenal di jajaran kepolisian, TNI, dan Dishub Jember maupun Dishub Provinsi, termasuk Dinas PU Bina Marga Provinsi dan Jember.

Nah, suatu hari Wiji cukup lama tidak memberikan informasi ke Polsek Kalibaru dan Polsek Silo.

Hal itu karena satu-satunya motor yang digunakan operasional rusak.

Siapa sangka, ada orang yang meneleponnya. Ternyata, orang yang menghubungi lewat telepon itu adalah polisi yang bertugas di Polda Jawa Timur.

Anggota tersebut selalu memberikan support kepada relawan Gumitir terkait dengan pengadaan rompi untuk relawan.

Bahkan, sepeda motornya yang rusak itu diminta untuk dibawa ke bengkel agar diperbaiki.

“Seluruh ongkos juga dibantu oleh anggota dari Polda Jatim itu,” katanya.

Tak hanya itu, salah satu dealer sepeda motor di Jember memberikannya hadiah.

Ia bebas memilih sepeda motor yang disukai.

Dia pun memilih sepeda motor matik untuk operasional di Jalur Gumitir.

Tak menunggu lama, sepeda motor baru diantar ke rumah Wiji.

Ini menjadi suatu penghargaan untuk relawan tersebut.

Dengan modal itu, Wiji akhirnya bisa beraktivitas lagi memberikan informasi penting seputar kejadian di Jalur Gumitir.

“Sepeda motor matik dari dealer itu pemberian dari anggota yang berdinas di Polda Jatim,” kata pria dua anak itu.

Dia pun semakin semangat memberikan informasi seputar Gumitir. Dia juga siap membantu setiap kejadian yang ada di jalur Gunung Gumitir.

Sepeda motor pemberian anggota Polda Jatim itu akhirnya dipasang stiker Patroli Relawan Gunung Gumitir.

Selain itu, di belakang motor ada boks tempat peralatan penunjang, seperti jas hujan, traffic cone lipat, lampu senter, dan kebutuhan lain.

“Oleh Satlantas Polres Jember dilengkapi dengan box, tulisan relawan Gunung Gumitir, dan jas hujan,” jelasnya.

Dia pun mengingatkan agar semua sopir tetap berhati-hati saat melintas di Jalur Gumitir maupun di jalan lain dan mengutamakan keselamatan. (c2/nur)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #relawan #Jalur Gumitir #Gumitir #kalibaru banyuwangi