KALIWATES, Radar Jember - Berangkat ke Tanah Suci, Makkah, mungkin impian sebagian besar umat muslim.
Bagi yang berkantong tebal, berangkat haji urusan mudah.
Namun, bagi mereka yang berpenghasilan rata-rata, ada perjuangan yang tidak mudah.
Seperti yang dilakukan Erfan ini.
Pakaian dan sejumlah perkakas itu tergeletak di sana-sini.
Di sebuah rumah yang sederhana, yang ditinggali keluarga kecil, Erfan terlihat mengemasi keperluan baju yang hendak ia masukan ke dalam koper besar.
Sesekali, baju ihram putih itu juga ia lipat dengan saksama, setelah ia coba kenakan.
Seolah gambaran Tanah Suci, Makkah, terngiang-ngiang di benaknya.
Aktivitas pria bernama lengkap Erfan Bin Abdurrahim, Kamis petang (1/5), itu bukan tanpa alasan.
Keesokan harinya, ia akan bergabung bersama ribuan calon jamaah haji (CJH) Jember untuk melakukan doa bersama, sebelum pemberangkatan haji, di GOR PKPSO Kaliwates.
Erfan seperti tak sabar menantikan momen yang mungkin seumur hidup sekali itu.
Ia seolah tidak percaya bahwa perjuangannya selama 27 tahun ini akan segera diraihnya, menunaikan rukun Islam kelima.
"Perasaannya bangga, keinginan sudah lama. Yaapa rasanya haji, karena belum pernah. Sering kepikiran kapan berangkat," kenangnya, saat ditemui, di kediamannya.
Tak sendiri, warga Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kaliwates, Jember, itu rupanya berangkat haji bersama istrinya, Mamik Purwati.
Saat mengisahkan perjuangan mengumpulkan uang, Erfan mengaku sudah sejak tahun 1998 silam niatannya menunaikan haji itu dimulai.
Tahun itu pula ia mulai menabung, menyisihkan hasil jualan sate setiap harinya, sekitar Rp 25–30 ribu.
Tidak terasa, hampir 27 tahun lamanya ia menabung, kini jerih payahnya itu segera terbayarkan.
"Sempat berkeinginan umrah saja, tapi tidak jadi. Kita ingin langsung haji saja," kenangnya.
Namun, di balik kisah inspiratifnya itu, kesabarannya Erfan diuji saat ia harus membagi pemasukannya hasil berjualan sate. Mana yang untuk kebutuhan keluarga sehari-hari, untuk kelanjutan usahanya, dan mana yang digunakan untuk ditabung.
"Kami cari sendiri. Sedikit-sedikit ditabung. Satunya buat keluarga. Satunya buat haji. Begitu seterusnya," aku pria 54 tahun itu.
Selain istri, Erfan juga harus menghidupi keluarga.
Ia memiliki tiga anak yang harus ia nafkahi, dari hasil menjual sate.
Ia membuka lapak sate di pinggir jalan di sekitar Jalan Trunojoyo, Kaliwates, Jember.
Erfan tercatat mendaftar haji pada tahun 2012 silam.
Pasangan suami istri ini dijadwalkan berangkat haji bersama rombongan kloter 50 embarkasi Juanda Surabaya, pada minggu kedua Mei 2025.
"Kita persiapannya sudah sedari kemarin-kemarin. Jauh-jauh hari kerja dulu, agar ada pendapatan. Mulai rutin olahraga juga, dari jam lima atau setengah enam. Kemudian setengah tujuh ke pasar, begitu seterusnya," katanya.
Kabar keberangkatan Erfan menunaikan haji bersama istrinya ini juga dibenarkan Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Jember Nur Sholeh.
Ia menyebut sejumlah calon jemaah memiliki latar belakang yang jarang ditemukan, seperti Erfan, pedagang sate asal Kepatihan, Kaliwates.
“Penghasilannya nggak seberapa, tapi karena ada takdir Allah, kebetulan ada kuota penggabungan. Jadi bisa berangkat,” tambah dia. (c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh