SUMBERSARI, Radar Jember - Memasuki panen raya, gabah kering panen (GKP) petani diharapkan dapat terserap maksimal oleh Bulog Jember. Agar harganya bisa dipastikan sesuai ketentuan, Rp 6,5 ribu.
Sayangnya, keterbatasan fasilitas membuat penerapannya harus dilakukan dengan kemitraan swasta. Di sisi lain, dari sekitar 90 penggilingan swasta, hanya ada lima sampai enam yang bersedia bermitra
Anggota Komisi B DPRD Jember Wahyu Prayudi Nugroho mengungkapkan, telah berkoordinasi dengan Bulog ihwal persoalan tersebut. Dikatakan hanya ada enam unit dryer yang dimiliki.
"Lantai jemur mereka juga terbatas," katanya kepada Jawa Pos Radar Jember seusai kunjungan, pekan lalu.
Dengan keterbatasan itu, kemampuan serapan gabah dari petani hanya 120 ton per hari. Padahal panen raya diprediksi masih akan berlangsung sampai pertengahan Mei.
Disebutkan, ada 39 ribu hektare sawah yang ditanami padi di Jember. Maka GKP yang harus diserap kurang lebih 60 ribu ton
. "Apabila hanya mengandalkan Bulog, hanya 120 ton. Tentunya ini akan sangat jauh dari kemampuan menetap gabah secara keseluruhan," jelasnya.
Legislator PDIP itu mengatakan, harus dijamin kemitraan dengan penggilingan-penggilingan swasta.
"Tapi yang sanggup dan mau bermitra dengan Bulog hanya kurang lebih 5 sampai 6 dari 90 penggilingan," bebernya.
Karena kapasitas swasta juga bervariasi, dia berharap banyak yang bermitra lagi. Selain serapan gabah bisa teratasi, masalah lain seperti antrean pembongkaran juga bisa ikut terpecahkan. Sehingga kualitas GKP bisa terjaga.
Kendati demikian, dia juga meminta agar petani bisa menjaga mutu gabah yang disetorkan kepada Bulog maupun penggilingan.
Kebijakan tanpa rafaksi diharapkan tidak dimanfaatkan oknum untuk mengirimkan gabah tak layak. "
Karena memang kejadian di lapangan ada oknum-oknum yang mengirim gabah yang kurang bagus kualitasnya. Contohnya ada gabah yang menghitam, ada juga banyak kotoran-kotoran di dalamnya," ungkap Wahyu. (sil/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi