Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cerita Pecinta Merpati Asal Kalisat Jember Rela Tidur Singkat demi Mantra jadi Kuat, Hobi Merpati Getakan sejak Kecil karena Ritualnya

M. Ainul Budi • Jumat, 11 April 2025 | 21:10 WIB

MERAWAT SEPENUH HATI: Budi Prasetyo, pecinta merpati getakan asal Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, tak pernah absen memberi makan merpati tiap pagi. (MEGA SILVIA/RJ)
MERAWAT SEPENUH HATI: Budi Prasetyo, pecinta merpati getakan asal Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, tak pernah absen memberi makan merpati tiap pagi. (MEGA SILVIA/RJ)
 

Harganya boleh murah, tapi merpati getakan memiliki daya tawar lebih di kalangan pehobinya.

Tradisi dan keandalan dalam merawat hingga mempertahankannya di tengah musuh adalah seni yang membuat Budi Prasetyo sangat menyukainya.

MEGA SILVIA, Ajung, Radar Jember

DI telapak tangannya jagung pipil itu perlahan berkurang hingga tandas. Puluhan merpati getakan-lah pelakunya.

Aktivitas pagi dan sore bersama merpati lokal miliknya itu sudah lekat selama puluhan tahun.

Tak ada yang lebih indah dari menyaksikan gerombolan merpati itu saling beradu menghabiskan makan darinya.

Lantas, kembali terbang ke pajudun atau menunggu asupan lain disuguhkan.

Budi Prasetyo, pecinta merpati getakan asal Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, sejak kecil memelihara merpati. Persisnya, sejak kelas lima SD benih–benih cinta itu muncul kepada merpati getakan.

Kecintaannya terhadap merpati itu tumbuh karena hari-harinya bersama sang ibu yang penuh kasih merawat puluhan merpati getakan. Dan, itu tak pernah lekang dari penglihatannya.

“Ibu saya dulu hobi merpati getakan,” ungkapnya.

Sudah 29 tahun berlalu, hobinya merawat merpati tetap sama. Bedanya, kreativitas yang menyertainya semakin berkembang.

Kali pertama Budi membeli dan merawat merpati juga dibarengi dengan keuletannya belajar membuat pajudun. Budi dan merpati getakan seolah berjodoh dalam sebuah hobi.

Maka, hal-hal yang menyertai merpati getakan pun bisa dibuatnya sendiri. Pajudun sebagai rumah hingga mata keteran, anyaman bambu untuk jendela pajudun, pun bisa dibuatnya.

Menurut cerita, mata keteran pada pajudun memengaruhi desain arsitektur rumah-rumah masyarakat Jember. Ketika sedang berjibaku menganyam mata keteran, jari-jemari Budi begitu luwes membolak-balikkan potongan bambu.

Dia tak sekadar suka merawat. Tapi, apa pun yang mengiringi merpati getakan dipelajarinya dengan baik.

Ada tiga pajudun di rumahnya. Saat ini, pria berusia 40 tahun itu tengah fokus memelihara 26 merpati. Harganya memang tak seberapa di pasaran.

Paling murah bisa Rp 5 ribu per ekor. Tapi, baginya merpati getakan adalah soal harga diri.

Sebab, tradisi tentang merpati itulah yang lebih mahal.

Tapi, sekali lagi, bukan tentang nominal. Budi mengatakan, yang menjadi pertaruhan harga diri ialah persaingan ketangguhan ilmu dengan lawan-lawannya (teman atau tetangga yang juga memiliki merpati getakan).

Bagaimana bisa memanggil merpati lawan datang ke pajudun miliknya saat tengah malam. Bukan dengan siulan atau umpan makanan.

“Ada semacam mantranya,” ungkapnya.

Untuk menguatkan mantra, Budi mengatur tidur. Dalam sehari, rata-rata tidurnya hanya beberapa jam. Dia tak mau lengah di tengah malam bahkan hingga dini hari.

Malam hari menjadi waktu yang pas baginya memperbesar peluang mantranya bisa ampuh.

“Agar merpati lain bisa datang ke pajudun saya pas tengah malam, saya fokuskan pikiran ke merpati milik musuh,” ulas Budi.

Jika berhasil, ritual pun dijalankan. Sesuai tradisi, setiap ada merpati lain yang datang ke pajudun miliknya, kentongan dibunyikan sekali.

Tanda yang akan dipahami para tetangganya. Tak jarang, ada tetangganya yang langsung datang melihat langsung merpati tersebut dan mengucapkan selamat.

“Saya suka ritualnya, seninya ada di sana,” ujar laki-laki yang bekerja sebagai petani itu.

Menurutnya, saat musik glundengan masih eksis di daerah tersebut, musik glundengan yang akan dimainkan.

Namun, kentongan saat ini pun sudah cukup. Mengikuti tradisi lama, seusai kentongan dibunyikan, dibuatlah acara makan-makan atau sekadar membuat minuman untuk tetangga yang datang.

Saking cintanya pada merpati yang memiliki ciri khas jambul dan bulu di kaki, hari-hari Budi paling banyak dihabiskan dengan merpati.

Memberi makan, melatih terbang ke pajudun, hingga membuatkannya jamu khusus. Tak jarang, desain pajudun-nya sering direnovasi demi keadaannya tetap bagus dan layak. (c2/nur)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #Burung Merpati