Puncak Badean Juga Sedot Wisatawan
BADEAN, Radar Jember – Embusan angin sejuk menyapa ramah para pengunjung yang mulai memadati kawasan Puncak Badean.
Suara gemericik air sungai juga mengiringi langkah wisatawan yang berkeliling.
Beberapa anak terlihat sudah basah kuyup.
Berlarian di atas batu-batu sungai sambil tertawa riang.
Sementara orang dewasa memilih duduk santai di gazebo, menikmati bekal yang mereka bawa.
Salah satu pengunjung asal Kecamatan Rambipuji, Muhammad Dani Setiyawan, mengaku sudah menandai Puncak Badean sebagai destinasi wisata pilihannya sejak jauh hari.
Dani datang bersama teman-temannya, membawa perlengkapan sederhana untuk bersantai.
“Udaranya adem, tempatnya nggak bikin gerah, cocok buat lepas penat,” ujarnya sambil memandangi aliran sungai yang tak terlalu deras.
Dani melanjutkan, menurutnya daya tarik Puncak Badean bukan sekadar pemandangan atau sejuknya udara pegunungan.
Ada sensasi seru yang tak ditemukan di tempat lain, yaitu mandi di sungai.
“Kalau di pantai pengen mandi malah bahaya, apalagi sekarang ombaknya kencang. Di sini bisa seru-seruan nyebur rame-rame,” katanya.
Awalnya Dani mengira tempat ini akan sepi.
Dia mengaku kaget melihat padatnya pengunjung.
Padahal awalnya dia berharap dapat menikmati suasana tenang dan lebih privat.
“Awalnya mau cari tempat yang agak sepi, biar lebih bebas dan tenang. Tapi ternyata rame juga, banyak dari daerah lain. Tapi, ya sudah, yang penting masih bisa santai dan nikmati liburan,” tambahnya.
Memang, Puncak Badean kini tak bisa lagi disebut sebagai hidden gem.
Jalanan menuju lokasi pun ramai kendaraan, meski tidak sampai macet.
Beberapa warung dadakan bermunculan di area wisata ini, menjajakan makanan ringan, kopi panas, dan mi instan.
Kendati demikian, pesona alam yang segar, aliran sungai yang bersih, serta akses yang tak begitu sulit membuat Puncak Badean perlahan naik daun.
Tak heran jika di momen libur panjang seperti Lebaran ini, tempat tersebut menjadi alternatif favorit bagi warga Jember.
Sebab, seperti yang dikatakan Dani, main air tak harus di pantai. (yul/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi