Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Riyoyo Kupatan dengan Lestarikan Tradisi Pegon di Jember, Semangat Gelar Waton, walau Terkena Efisiensi

M. Ainul Budi • Selasa, 8 April 2025 | 21:20 WIB

LESTARIKAN TRADISI: Kemarin (6/4), Andreas, warga Dusun Krajan Lor Desa Sumberejo mempersiapkan Pegon miliknya untuk dibawa saat Watu Ulo Pegon Parade (Waton). (TRI JOKO/RJ)
LESTARIKAN TRADISI: Kemarin (6/4), Andreas, warga Dusun Krajan Lor Desa Sumberejo mempersiapkan Pegon miliknya untuk dibawa saat Watu Ulo Pegon Parade (Waton). (TRI JOKO/RJ)
 

Pegon atau cikar yang ditarik dua ekor sapi menjadi transportasi tradisional yang masih ada di wilayah Jember bagian selatan, tepatnya Ambulu dan sekitarnya. Pada Senin pagi ini (7/4) masyarakat akan melihat arak-arakan Pegon dari Balai Desa Sumberejo menuju Pantai Watu Ulo.

MEGA SILVIA, Sumberejo - Radar Jember

Pagi kemarin (6/4) Andreas, warga Dusun Krajan Lor, Desa Sumberejo begitu sibuk mempercantik pedati atau Pegon miliknya. Mengenakan kaos berwarna biru, dia tetap semangat untuk menyambut perayaan Watu Ulo Pegon Parade (Waton) dipastikan digelar hari ini, Senin (7/4).

Koordinator Pegon Syamsul Arifin mengungkapkan, gelaran Pegon kali ini murni dari sumber daya masyarakat. Artinya tidak ada sokongan dana dari Pemkab Jember, seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada tiga kecamatan yang turut berpartisipasi, Ambulu, Wuluhan, dan Tempurejo. "Anggaran ya gak turun, katanya kena efisiensi," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember ketika sedang cek lokasi Pegon di Pantai Watu Ulo, kemarin (6/4).

Dia menceritakan, pada awal puasa kemarin pihak pemkab sudah mengajukan proposal meski waktunya tak sesuai dengan kesepakatan warga. Dikatakan, pemkab mengagendakan tanggal 6 April, sementara warga bersepakat tanggal 7 April atau tepat pada hari raya ketupat. "Kemudikan kami juga sudah melakukan beberapa kali rapat dengan pemkab," kata pria asal Desa Sabrang, Ambulu itu.

Hingga beberapa hari menjelang lebaran, tepatnya tanggal 27 Maret kemarin, pihaknya mendapatkan informasi bahwa anggaran tak bisa turun untuk event Pegon. Syamsul mengaku pasrah dan menggelar rapat kecil kembali dengan sejumlah pihak. Termasuk koordinator bajingan (pedati Pegon). "Kami sepakat Pegon tetap harus dilaksanakan karena ini tradisi," katanya.

Meski peserta tidak sebanyak ketika mendapatkan pendanaan dari pemkab, itu tak menjadi masalah. Disebutkan, jika biasanya ada 55 Pegon, maka kini tak lebih dari 40 Pegon. Masing-masing peserta juga diwajibkan membawa berkat untuk melangsungkan syukuran dan mendoakan leluhur di area Pantai Watu Ulo. "Kamis sudah dapat izin dan khusus peserta Pegon diberi akses masuk gratis ke Pantai Watu Ulo," ucapnya.

Parade Pegon, dimulai Senin pagi hari (7/4). Seluruh peserta memulai berjalan bersama Pegon dan sapi-sapinya di Balai Desa Sumberejo menuju Pantai Watu Ulo. Sekira enam kilometer jarak yang ditempuh.

Terpisah, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Jember, Bambang Riyadi membenarkan pada tahun ini pemkab tak memberikan sokongan dana akibat efisiensi anggaran. "Tidak ada anggaran untuk Pegon, terkena dampak efisiensi," tuturnya.

Selain itu, kata dia, hingga saat ini pemkab belum bisa melakukan serapan anggaran karena kebijakan dari pemerintah pusat. Namun, dia mengaku pihaknya tetap hadir mendukung secara moril pada gelaran Pegon. "Akar budaya tidak akan mati meski tidak ada kehadiran pemkab. Ini kan merupakan tradisi ya," tambahnya. (dwi)

Editor : M. Ainul Budi
#TRADISI #Jember #pegon #Wisata