THR yang diterima oleh pekerja menjelang perayaan hari besar keagamaan memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian di tingkat daerah. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Jember, Dr Haris Hermawan, mengungkapkan demikian.
Dia mengatakan, THR memicu perputaran ekonomi lokal yang lebih cepat karena ada peningkatan daya beli masyarakat. Pemberian THR juga menggerakkan perekonomian yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, seperti sektor jasa dan pariwisata.
Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap berbagai layanan. Sehingga bisnis-bisnis di sektor tersebut bisa meraup keuntungan lebih. Di sisi lain, kata dia, peningkatan permintaan ini mendorong berkembangnya usaha kecil dan menengah (UKM).
Dengan THR, mereka dapat merasakan lonjakan omzet dan merangsang pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih merata. “Dengan adanya THR, daya beli masyarakat akan meningkat, yang pada gilirannya mendorong perekonomian daerah menjadi lebih hidup,” kata Haris.
Namun demikian, Haris juga menilai pengelolaan THR yang bijaksana menjadi hal penting. Ia menekankan agar masyarakat tidak sekadar menghabiskan THR untuk konsumsi jangka pendek. Namun, juga mengalokasikannya untuk kebutuhan yang lebih produktif. Misalnya untuk tabungan atau investasi jangka panjang, atau zakat.
Di sisi ekonomi makro, dampak THR juga bisa dirasakan dalam penciptaan lapangan kerja dan menggerakkan roda perekonomian daerah. Ketika daya beli meningkat, perusahaan-perusahaan kecil hingga besar turut merasakan manfaatnya. Pada gilirannya menciptakan peluang lapangan kerja baru. “Hal ini tentu sangat penting, dan bisa bermanfaat kepada semua,” pungkasnya. (dhi/c2/mau)
Editor : M. Ainul Budi