TEGALBOTO, Radar Jember – Bila Bulan Ramadan tiba, sudah bisa dipastikan sepanjang jalan sekitaran kampus Universitas Jember (Unej), Jalan Kalimantan, Jalan Jawa, Jalan Mastrip, dan Jalan Riau dibanjiri pedagang takjil.
Tak sedikit dari mereka adalah penjual takjil dadakan dari kalangan mahasiswa.
Fenomena mahasiswa buka usaha dagang takjil pada bulan Ramadan ini seperti sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun.
Bahkan, hampir 10 tahun terakhir, mahasiswa seakan tak gengsi berburu cuan melalui berjualan takjil.
Berbekal kreativitas dan semangat wirausaha, mereka membuka stan makanan dan minuman dengan harga ramah di kantong mahasiswa.
Menjalankan bisnis di sela kesibukan kuliah tentu bukan hal mudah.
Namun, dengan manajemen waktu yang baik dan kerja sama tim yang solid, mereka membuktikan bahwa usaha bisa berjalan seiring dengan aktivitas akademik.
Seperti yang dilakukan Alfin Hamdani, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Jember, bersama kelima rekannya.
Berawal dari keinginan mengisi waktu luang sebagai mahasiswa tingkat akhir, mereka mendirikan stan takjil.
“Mumpung masih muda, apa pun bisa dicoba. Gak ada gengsi, malah senang karena ketika opening langsung ramai,” ujar Alfin.
Usaha dagangan pada bulan Ramadan itu mulai buka sejak hari Senin (3/3) kemarin. Bukanya pun hanya tiga jam.
Mulai dari 15.00 sampai waktu Magrib, 18.00. Menurut Alfin, sistem jaga stannya berbasis sif.
Meski hanya tiga jam.
Sif malam bertugas menyiapkan bahan makanan dan belanja, sedangkan sif siang mengelola stan dan menyajikan makanan. Mereka menjual rice bowl dengan pilihan lauk tongkol suwir, chicken popcorn, dan ayam suwir.
Sama dengan Alfin, mahasiswa UIN KHAS Jember, Muhammad Hanan, juga menggeluti usaha bisnis makanan ketika bulan Ramadan.
Dia tak sendiri, melainkan bersama dua kawannya. Memanfaatkan momen Ramadan, pilihan usahanya adalah es durian dan alpukat.
Menurut Hanan, awal usahanya itu untuk mengisi waktu luang dan menambah pemasukan sebagai mahasiswa.
Namun, sembari berjalan, justru kini usahanya makin berkembang.
Bagi Hanan, tantangan terbesar dalam bisnis ini adalah belajar menghadapi konsumen dan membangun tim kerja, mengingat dirinya seorang introver.
“Karena saya introver dan agak pemalu, ini pengalaman baru buat saya. Terutama dalam bisnis dan membangun tim,” ujar Hanan. (c2/bud)
Editor : M. Ainul Budi