PAPUA, Radar Jember - Duka tengah menyelimuti keluarga Wahyudi, 54, warga Dusun Krajan, RT/RW 006/010, Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Jember. Dia dikabarkan meninggal dunia usai menjadi korban begal di tanah rantau, Papua.
Kasus itu sendiri terjadi di Pelabuhan Aikai Enarotali, Kampung Aikai, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, pada Jumat pagi (21/2). Korban yang diketahui bekerja sebagai penarik ojek ini, baru dapat sekitar 2 bulan merantau ke Papua.
Kasus begal sadis itu dibenarkan oleh Kapolres Paniai, Kompol Deddy A. Puhiri. Ia menyebut, kasus penganiyaan terhadap warga sipil yang berporfesi sebagai tukang ojek itu terjadi pukul 06.55 WIT.
"Berdasarkan laporan warga, pelaku berjumlah dua orang, ketika selesai melakukan aksinya, pelaku langsung melarikan diri, menggunakan speedboat mesin 40 PK," kata Puhiri, dalam keterangan tertulisnya, yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember.
Berdasarkan keterangan saksi, kata Puhiri, aksi begal sadis oleh orang tak dikenal (OTK) itu menggunakan senjata tajam berupa parang. Korban mengalami luka bacok pada bagian kepala, kaki kanan dan tangan kanan yang sampai putus. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa korban tak tertolong.
Dan setelah menghabisi korban, pelaku kabur menggunakan speedboat ke arah Danau Paniai. "Korban telah dievakuasi oleh Polsek Paniai menuju ke RSUD Madi untuk diotopsi. Dan kepolisian tengah melakukan lidik dan mengejar para pelaku," imbuh dia.
Usai kejadian itu, keluarga korban di rumah seketika berkabung. Ironisnya, keluarga korban tidak bisa mengurus proses pemulangan jenazah lantaran terkendala biaya. "Keluarga korban diminta Rp 60 juta untuk proses pemulangannya, yah kasihan, orang gak punya," ungkap A. Mahorrozi, keluarga korban, (21/2).
Kabar meninggalnya korban itu juga dibenarkan oleh Kepala Desa Suco, Taufik Hidayat. Ia sempat didatangi pihak keluarga dan dimintai tolong untuk membantu proses pemulangannya jenazah korban.
Namun karena sang kades juga terkendala biaya, Taufik kemudian meminta tolong kepada Dinas Sosial Kabupaten Jember dan Info Warga Jember (IWJ) Korwil Jayapura, di Papua.
"Kalau cuma 10 sampai 15 juta mungkin keluarga bisa mengupayakan untuk pemulangannya, bisa jual sapi. Tetapi ini diminta Rp 60 juta, dan kabarnya sudah turun Rp 57 juta," kata Taufik, Jum'at (21/2).
Ia berharap pihak-pihak yang dimintai bantuan itu dapat membuahkan hasil. Dan warganya itu dapat segera dibawa pulang ke rumah duka untuk dikebumikan. "Kami masih menunggu dari dinsos dan temen-temen IWJ ini, semoga nanti bisa segera dibawa pulang jenazahnya," harapnya.
Terpisah, Ketua Umum IWJ, Habib Salim, mengaku turut berdukacita atas kabar duka itu. Ia juga kaget kala mengetahui nominal untuk proses pemulangan jenazah yang mencapai Rp 60 juta itu.
"Memang biaya pesawatnya tinggi, kalau pesawat yang langsung dari Bandara Sentani 4,5 jam, sementara ke Kuala Lumpur Malaysia itu 2,5 jam, tapi kalau kemudian dengan nominal itu (Rp 60 juta,Red) ya terlalu tinggi," sesalnya, (21/2).
Habib mengaku telah mengkomunikasikan dengan IWJ Korwil Papua untuk membantu proses pemulangan tersebut. Biasanya, kata dia, relawan dari Paguyuban Jember ini secara bergotong-royong membantu dalam hal urusan kemanusiaan seperti pemulangan warga Jember di tanah rantau.
"Kalau dari Disnaker, kayaknya tidak ada anggaran pemulangan dari antar wilayah/provinsi di Indonesia, yang ada itu kalau PMI yang dari luar negeri, dengan berkoordinasi dengan BP2MI," imbuh pria yang juga Kabid Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan jamsostek Disnaker Kabupaten Jember, ini. (mau)
Editor : M. Ainul Budi