Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Aktivitas Relawan Perlintasan Kereta Api di Wilayah Jember, Rela Hadang Kendaraan karena Alarm Tak Berfungsi

Radar Digital • Rabu, 19 Februari 2025 | 16:55 WIB
TANPA PAMRIH: Samijan, 70, relawan penjaga lintasan kereta api tanpa palang pintu, menghadang pengendara mobil, di Dusun Krajan Kidul, Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru, Selasa (18/2).
TANPA PAMRIH: Samijan, 70, relawan penjaga lintasan kereta api tanpa palang pintu, menghadang pengendara mobil, di Dusun Krajan Kidul, Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru, Selasa (18/2).

Banyak perlintasan kereta api yang tak memiliki palang pintu, karena keterbatasan fasilitas. Berkat para relawan, banyak nyawa pengendara yang terselamatkan.

JUMAI, YOSORATI - Radar Jember

DI Kabupaten Jember banyak perlintasan kereta api (KA) yang tidak resmi dan tanpa palang pintu. Kondisi di Kecamatan Sumberbaru juga demikian.

Namun, karena tak terjangkau oleh fasilitas seperti palang pintu resmi, ada relawan yang berjasa menyelamatkan nyawa para pengendara.

Salah satunya di Dusun Krajan Kidul, Desa Yosorati, Kecamatan Sumberbaru. Seorang relawan menjaga perlintasan KA yang cukup jauh dari permukiman warga itu setiap hari, karena banyak dilalui warga. Terutama warga yang beraktivitas di sekitar lokasi.

Baik yang bekerja ke sawah maupun untuk keperluan lain. Dia adalah Samijan, seorang kakek berusia 70 tahun, yang merupakan warga setempat.

Menurut Samijan, di perlintasan itu sebenarnya sudah dipasang alarm. Namun, ketika ada kereta hendak lewat, alarm itu tak berfungsi.

Alarm itu menggunakan tenaga surya, tapi alatnya hilang.

Samijan menyebut, dia menjaga perlintasan kereta api itu bergantian dengan satu warga lainnya.

"Saya jaga di lintasan biasanya siang, pukul 12.00 sampai pukul 17.00. Kalau sudah di atas pukul 12.00, banyak siswa SMPN 1 Sumberbaru yang lewat,” katanya.

Pagi harinya, menurut Samijan, ada orang lain yang juga menjaganya dan ada orang menarik amal di sekitar lintasan.

Dikatakan, saat berjaga dia mondar-mandir di lokasi.

Saat jam KA lewat, dia pun terkadang harus berdiri di tengah jalan untuk menghadang pengendara sepeda motor, mobil, atau kendaraan lain yang hendak lewat.

“Tugas saya mondar-mandir dan tidak pernah duduk, karena sambil melihat kereta yang datang sewaktu-waktu. Kadang masih ada yang memaksa melintas meskipun sudah dihalang-halangi karena kereta api lewat,” katanya.

Di perlintasan tanpa palang pintu itu dulunya ada pipa besi untuk penghalang. Namun, saat ini sudah tidak ada. “Kalau dulu cukup pakai palang. Sekarang saya harus berdiri agar tidak ada yang lewat saat kereta api lewat,” ulasnya.

Saat ada kereta hendak lewat, Samijan selalu membawa bendera yang kini warnanya sudah kusam. Selain itu, sia masih harus berlari ke perlintasan lain dan mengangkat bendera di tangannya. Itu dilakukannya karena jika terlambat, bisa memakan korban jiwa. “Di sini juga sering kecelakaan dan memakan korban jiwa. Pengendara sepeda motor dan mobil juga pernah tertabrak kereta api,” katanya.

Dia sudah 7 tahun terakhir menjaga perlintasan yang banyak dilewati pengendara sepeda motor, mobil, maupun truk itu. Menurutnya, kecelakaan terakhir di tempat itu terjadi pada Maret 2023 yang membuat pengendara sepeda motor meninggal dunia.

"Saya maunya berhenti, tetapi oleh Pak Kapolsek diminta, karena tidak ada yang menjaga lintasan ini. Bahkan saya pernah diberi rompi oleh Polsek Sumberbaru,” jelasnya.

Di lokasi itu, Samijan sesekali terlihat mondar-mandir di perlintasan tanpa palang pintu tersebut. Ketika muncul pengendara baik dari arah selatan maupun utara, dia langsung berdiri di atas rel sambil melambaikan bendera di tangannya.

"Ayo lanjut, silakan. Hati-hati,” ucapnya sambil tersenyum.

Di lokasi tersebut, pengendara yang lewat juga terpantau ada yang memberikan uang kisaran Rp 1.000 hingga Rp 2.000. Bahkan ada yang memberikan kue hingga es krim. “Kalau lengah sedikit, bisa jadi ada yang tertabrak kereta,” pungkasnya.

Para relawan, seperti Samijan, layak diberi penghargaan. Sebab, tak semua orang bisa mengabdi seperti kakek itu. Kamu mau jaga perlintasan KA, tanpa dibayar? (c2/nur)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #PT KAI