SUMBERSARI, Radar Jember - Harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah secara resmi berlaku sejak 15 Januari lalu. Saat ini harganya Rp 6.500 untuk gabah kering giling. Ini mengalami peningkatan Rp 500 perak. Harga itu sudah paten dan tidak boleh ditawar lagi.
Kepala Perum Bulog Cabang Jember Muhammad Ade Saputra mengatakan, untuk memastikan hasil produksi padi dibeli sesuai dengan HPP yang sudah ditetapkan, mereka melakukan sosialisasi langsung kepada petani di lapangan. Hasilnya, saat ini rerata petani sudah memahami patokan harga tersebut. “Harga gabah di tingkat petani Rp 6.500. Tidak ada negosiasi, tidak ada tawar-menawar,” tegasnya.
HPP bertujuan untuk melindungi petani sekaligus memastikan kestabilan harga pangan di pasaran. Hal itu juga berdasarkan kalkulasi matang dengan mempertimbangkan biaya produksi petani. Jika harga gabah dan beras ditawar terlalu rendah, maka para warga akan menghadapi kesulitan dalam memenuhi biaya operasionalnya. Jika demikian, tidak tertutup kemungkinan berdampak pada penurunan produksi beras.
Selain itu, pria yang akrab disapa Ade itu menyebut, pihaknya membentuk tim pengadaan dan tim jemput gabah. Salah satu tugas mereka adalah turun ke lapangan untuk memastikan kondisi panen, sesuai dengan data luas panen yang disampaikan Dinas Pertanian. “Ini menjadi early warning system, atau peringatan dini bagi kami. Terhadap potensi panen di Kabupaten Jember,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ade juga mengungkapkan, target serapan Bulog Jember, baik padi atau beras dari petani, pada tahun ini sebanyak 51 ribu ton. Dengan perincian beras sejumlah 31 ton, serta gabah 20 ribu ton. Hingga akhir Januari lalu, serapan gabah masih 3,5 ton. Sementara, beras serapannya masih mencapai 1,6 ribu ton. “Kondisi panen belum maksimal dan belum mencapai puncaknya,” terangnya.
Untuk mencapai target itu, Ade mengaku bekerja sama dengan Kodim dan Dinas Pertanian, hingga organisasi petani setempat. Serta membuka posko serapan pengadaan beras dan gabah yang ada di seluruh koramil. Selain itu, dia mengaku membuka peluang kerja sama bagi pengusaha penggilingan atau gudang yang dilengkapi mesin dryer. “Di Jember memang ada sentra penggilingan padi. Namun, hal itu masih terbatas,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi