Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Waspada Cuaca Buruk Petani di Kabupaten Jember Bisa Merugi, Berikut Ulasannya

Radar Digital • Senin, 10 Februari 2025 | 23:10 WIB
PANEN PAKSA: Petani memanen tanaman padi yang roboh akibat diterjang angin di Dusun Jereng, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Rabu (18/12).
PANEN PAKSA: Petani memanen tanaman padi yang roboh akibat diterjang angin di Dusun Jereng, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Rabu (18/12).

MUSIM tanam kali ini diperkirakan akan menghasilkan produksi yang meningkat. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sucipto menyatakan, bantuan pupuk subsidi untuk musim tanam satu, yang berlangsung sejak Desember 2024 hingga Maret 2025, dalam kondisi cukup. Kendati demikian, dia mengingatkan ada ancaman lain yang perlu diwaspadai. Terutama kondisi cuaca yang bisa berdampak pada hasil panen.

Sucipto menjelaskan, harga beras dan gabah terus mengalami kenaikan. Jika tahun lalu harga beras berada di kisaran Rp 11.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 12.000 per kilogram. Sementara itu, harga gabah yang sebelumnya Rp 6.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 6.500. Padahal, Jember dikenal sebagai daerah dengan produksi beras yang melimpah. Menurutnya, meskipun produksi tinggi, harga tetap naik akibat distribusi yang kurang terkelola dengan baik. Banyak hasil panen yang dikirim ke luar daerah, menyebabkan pasokan di Jember berkurang dan harga ikut meningkat.

Selain itu, ancaman cuaca buruk juga bisa memperburuk kondisi petani. Sucipto menekankan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi petani saat musim hujan adalah pengeringan gabah. Tidak semua kelompok tani memiliki fasilitas pengering. Oleh karena itu, jika gabah tidak bisa dikeringkan dalam waktu kurang dari seminggu, kualitasnya akan menurun dan berdampak pada harga jual. “Di sinilah pemerintah bisa turun, membantu fasilitas pengering agar kualitas hasil panen terjaga. Jadi, petani lebih tenang,” jelasnya.

Selain itu, menurut Sucipto, pemerintah perlu mengambil langkah strategis agar ketahanan pangan tetap stabil dan harga tidak semakin melonjak. Selain penyediaan fasilitas pengering, pemerintah juga harus memastikan distribusi beras lebih merata agar stok dalam daerah tetap terjaga. Di sisi lain, peran Bulog dalam menyerap hasil panen petani juga harus diperkuat agar harga tidak dikendalikan oleh tengkulak atau pedagang besar.

Di tengah kondisi pertanian yang penuh tantangan ini, Sucipto juga menyoroti pentingnya peran media. Terutama dalam momen peringatan Hari Pers Nasional. Wartawan, menurutnya, bisa berperan dalam mengawasi distribusi pupuk subsidi agar tepat sasaran serta menyebarkan informasi terkait perkembangan pertanian. “Dengan adanya sinergi antara petani, pemerintah, dan media, harapannya ketahanan pangan tetap terjaga dan harga beras bisa semakin stabil serta petani sejahtera,” tutupnya. (yul/c2/nur)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #ktna #hpn #Petani #Ketahanan Pangan