JEMBER, RADARJEMBER - Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, Linda Fatmawati memiliki peran krusial dalam membentuk moral generasi muda. Di SMAN Rambipuji, dia dikenal memiliki karakter tegas, tapi juga penyayang.
Tak heran banyak siswa yang mengidolakannya. Tak hanya itu, Linda juga memiliki kemampuan akting yang mumpuni. Hal ini sudah tak diragukan lagi. Sebab, dia terpilih menjadi talent dalam acara Si Bolang di Trans7, beberapa waktu lalu.
Bagi Linda, syuting Si Bolang bukan sekadar ajang coba-coba. Linda melihat kesempatan ini sebagai cara untuk mengenalkan daerahnya ke panggung nasional.
Sebab, selain sebagai guru, Linda juga aktif mengembangkan BUMDes di daerahnya. Tepatnya di Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru.
“Di BUMDes itu kan ada bidang perekonomian, pertanian, dan lain-lain, nah, kalau saya di bidang wisata desa,” jelasnya.
Semua bermula dari informasi yang dibagikan seorang temannya di balai desa. Saat itu, tim Si Bolang mencari talent untuk episode mereka.
Linda pun mengikuti proses casting yang ternyata tidak mudah. Dia harus menunjukkan berbagai ekspresi, dari marah hingga tertawa, demi meyakinkan tim produksi.
“Pas casting susah-susah gampang. Saya disuruh marah, ketawa, pokoknya harus bisa bereaksi dengan cepat. Lawan mainnya dari tim produksi sendiri, jadi harus bisa bangun chemistry,” kenangnya.
Walaupun tak memiliki latar belakang pendidikan di bidang penyiaran atau akting, pengalaman semasa SMA saat mengikuti pergelaran seni membantunya menyesuaikan diri.
Uniknya, dia sering dipercaya memerankan karakter antagonis karena kemampuannya menunjukkan ekspresi marah yang kuat.
Tantangan terbesar bagi Linda bukan sekadar akting. Melainkan membangun interaksi dengan anak-anak yang menjadi talent utama acara.
Sebagai guru, dia sudah terbiasa memahami emosi anak-anak. Namun, tetap harus lebih peka dalam menghadapi mereka di lokasi syuting.
“Harus pinter-pinter komunikasi dan cepat tanggap, karena syuting dikejar waktu,” ujarnya.
Selain itu, ia juga harus menghadapi tantangan teknis seperti pengulangan adegan yang cukup banyak. Bahkan harus mengenakan pakaian yang sama selama empat hari syuting.
“Bajunya dipakai lagi besoknya. Jadi, harus tetap rapi dan terlihat sama di kamera,” tambahnya.
Selain itu, keterlibatan Linda juga menggugah semangat masyarakat sekitar. Karang taruna desanya ikut serta menjadi kru produksi, membantu berbagai kebutuhan tim.
Menurutnya, ini adalah bentuk kebanggaan tersendiri bagi warga lokal karena mereka tidak hanya terlibat dalam produksi acara televisi nasional, tetapi juga turut mengangkat citra daerah.
Mereka ingin agar destinasi wisata lokal seperti air terjun, bumi perkemahan, dan pertanian di Desa Karangbayat semakin dikenal luas.
“Banyak tempat di Jember yang punya potensi besar, tapi kurang terekspos. Nah, lewat acara seperti Si Bolang, kita bisa mengenalkan itu ke lebih banyak orang,” katanya.
Sebagai seorang guru agama, Linda juga melihat industri media sebagai lahan yang potensial bagi anak-anak didiknya. Dia ingin mereka memiliki wawasan lebih luas tentang dunia kerja dan tidak ragu mengeksplorasi berbagai bidang, termasuk media.
“Saya ingin anak-anak melihat dunia media bukan hanya dari sisi hiburan, tapi juga sebagai tempat berkarya. Saya ajak mereka berpikir lebih luas. Siapa tahu ada yang tertarik meniti karir di bidang ini,” katanya.
Menurutnya, dunia media dan pendidikan agama bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Justru ada banyak nilai moral yang bisa diajarkan melalui media.
Dalam Si Bolang, misalnya, anak-anak bukan hanya diajak berpetualang. Tetapi, juga dibimbing dalam hal etika, sopan santun, serta diajarkan untuk selalu berdoa sebelum syuting dimulai.
Dari seorang guru hingga menjadi bagian dari industri media, Linda membuktikan bahwa kesempatan bisa datang dari mana saja. Dia berharap semakin banyak orang yang berani memperkenalkan daerah mereka ke dunia luar.
“Kalau ada yang mau mengajukan daerahnya ke Si Bolang atau program lainnya, kenapa tidak? Ini bukan hanya soal personal, tapi soal cinta terhadap tempat kita berasal,” pungkasnya. (yul/c2/nur)
Editor : Alvioniza