JAMBEARUM, Radar Jember – Anggaran pendidikan minimal 20 persen, seperti harus lebih memprioritaskan fasilitas pendidikan.
Jika tidak, maka sekolah-sekolah rusak akan tetap banyak. Sebab, setiap tahun tak sampai 20 persen sekolah rusak yang dibangun atau diperbaiki.
Salah satu bangunan sekolah yang kini memprihatinkan yakni di SDN Jambearum 2, Kecamatan Sumberjambe.
Sejumlah atap bangunan sekolah hanya ditutup dengan seng dan tampak rusak parah. Meski demikian, kegiatan belajar mengajar (KBM) masih terus berlangsung.
Ruang kelas yang rusak yaitu kelas 4 dan 5. Gedung sekolah ini dibangun pada era Presiden Soeharto. Kini mengalami kerusakan cukup signifikan.
Atap seng yang seharusnya menjadi pelindung utama dari cuaca buruk, kini banyak yang bocor dan rusak.
Kepala SDN Jambearum 2 Manito mengatakan, beberapa bagian atap sudah tidak tersusun dengan rapat, sehingga air hujan bisa dengan mudah masuk ke dalam ruang kelas.
Serta angin kencang dapat membahayakan siswa.
“Setiap hujan, kami selalu khawatir karena air masuk ke dalam kelas dan mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kami juga khawatir tentang keselamatan siswa dan guru karena atap yang sudah rapuh ini berpotensi jatuh,” ujarnya.
Selain kerusakan atap, kondisi dinding dan lantai kedua ruang kelas tersebut juga semakin buruk. Beberapa bagian dinding terlihat mengelupas. Sedangkan, lantainya sejak awal berdirinya sekolah ini memang tak menggunakan keramik, dan cukup banyak terdapat retakan.
Minimnya kelas di SDN Jambearum 2 memaksa dua kelas yang sudah tidak layak ditempati untuk tetap dilangsungkan aktivitas belajar.
Meski banyak kecemasan, tapi siswa dan para guru tak patah semangat untuk terus belajar.
Sejumlah guru SDN Jambearum 2 juga sempat melakukan renovasi mandiri, melalui iuran uang pribadinya untuk membeli seng sebagai penutup atap yang bocor.
Namun, hal itu tak mampu bertahan lama. Terutama saat memasuki musim hujan dan terkena angin kencang.
“Kami pernah melakukan iuran guru untuk membeli seng, karena sangat prihatin dengan kondisi dua ruang kelas tersebut,” ungkapnya.
Dengan demikian, Manito berharap adanya bantuan renovasi dari pemerintah setempat agar keberlangsungan KBM di SDN Jambearum 2 ini bisa terlaksana dengan nyaman, aman, dan semua murid merasa gembira di kelas.
“Kami sudah beberapa kali mengajukan permohonan kepada Dinas Pendidikan Jember. Harapan kami, pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi sekolah-sekolah di desa,” terangnya.
Hal senada juga disampaikan oleh guru kelas 4 SDN Jambearum 2, Budi Truswanto. Dia sangat prihatin dan cemas melihat kondisi kelas yang ditempati.
Namun, di sisi lain, ia juga terharu melihat siswa yang tak patah semangat untuk tetap mengikuti pelajaran di kelas.
“Satu sisi kami cemas, di sisi lain kami terharu melihat semangat mereka untuk belajar,” pungkasnya. (dhi/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi