Mengupas Lagu “Bubrah” Ciptaan Natural Band
Putus Cinta di Talangsari
Curahan hati menjadi kepingan lirik dan menyatu dengan aransemen lagu berjudul “Bubrah”. Diambil dari kisah nyata yang berakhir di tanah Talangsari. Musiknya cukup membius dan bisa menciptakan suasana “ambyar”.
M ADHI SURYA,
JEMBER KIDUL - Radar Jember
“SISIH wetan Talangsari, lungamu ninggalke tatu ning ati.” Demikian sepenggal lirik lagu berjudul Bubrah yang diciptakan Natural Band. Lagu ini dirilis sekitar tiga pekan lalu.
Saat rilis, menjadi momen penuh makna bagi Natural Band. Apalagi, lagu ini diakui tak sekadar karya musik.
Namun, berisi tentang kisah cinta nyata di Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Setiap lirik lagu dituangkan dengan mendalam.
Bubrah menggambarkan perjalanan emosional dari hubungan cinta yang hancur atau berantakan.
Manajer Natural Band, Ahmad Zimam, menyampaikan, proses penciptaan lagu ini dimulai dari pengalaman pribadi yang dialami oleh sang vokalis, Hilmi Hidayatullah. "Lagu ini adalah bentuk ekspresi dari perasaan dan pengalaman hidup yang dirasakan. Selain itu, setiap anggota memiliki cerita yang berbeda. Namun, bisa saling terhubung dalam lirik dan melodi lagu ini," ungkap Zimam.
Hilmi menjelaskan, lirik Bubrah bisa dibilang merupakan gabungan dari kisah hidup yang dihadapi oleh setiap anggota band.
Lagu ini bercerita tentang hubungan yang penuh dengan harapan. Sayangnya, sad ending.
“Kami ingin menyampaikan, meskipun sebuah hubungan hancur, kita tetap harus menerima kenyataan dan belajar untuk bangkit lagi," jelasnya.
Gitaris Natural Band, Fathur Rohman, menambahkan, proses pembuatan lagu ini sangat emosional. Personel band itu pun tak hanya bermain musik, tapi juga mencurahkan perasaan dalam setiap petikan gitar.
“Setiap nada yang kami mainkan mengandung makna mendalam," ungkap pria yang juga berperan dalam penyusunan aransemen musik itu.
Sementara itu, basis band, Normahati Ichwan, menyebut, lagu Bubrah adalah karya yang paling personal bagi dirinya.
Lagu itu, menurutnya, seperti cermin dari perasaan yang pernah merasakan kekecewaan dan kehilangan.
“Kami ingin pendengar bisa merasakan apa yang kami rasakan melalui irama dan lirik," tambahnya.
Keyboardist, Anas, juga mengaku sangat terlibat dalam penciptaan lagu ini. Menurutnya, melodi dalam lagu Bubrah berperan besar untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan. "Kami ingin musiknya bisa menyentuh perasaan pendengar. Membuat mereka meresapi setiap kata dalam lirik," katanya.
Dalam lagu ini, pemain kendang, Reza Ardani, memberikan nuansa yang berbeda dalam lagu ini. Ada perpaduan antara irama tradisional dengan modern. Menciptakan warna yang khas.
"Kami ingin memberikan sesuatu yang baru dalam musik Indonesia dengan menggabungkan unsur tradisional yang tetap relevan di era modern ini," ujar Reza.
Drummer band, Yogi Pradana, mengungkapkan, tantangan terbesar dalam pembuatan lagu Bubrah adalah menciptakan ritme yang bisa menggambarkan perasaan yang berubah-ubah dalam lagu.
"Tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara ketegangan dan kelegaan dalam setiap ketukan drum, agar lagu ini bisa terasa hidup," ungkap Yogi.
Lagu ini juga melibatkan proses rekaman yang intens. Selama beberapa bulan, anggota band berlatih keras untuk memastikan setiap elemen musik dan lirik saling mendukung.
Mereka bekerja sama dengan produser musik untuk menciptakan suara yang sesuai dengan visi mereka. Hasilnya, lagu yang bukan hanya indah, tetapi sarat dengan makna yang mendalam.
Mereka juga menyebut lagu ini menjadi bukti nyata dari keseriusan Natural Band dalam berkarya dan terus berinovasi di dunia musik.
Dengan lirik yang kuat dan aransemen musik yang menarik, mereka berharap dapat menjangkau lebih banyak pendengar. Serta menginspirasi banyak orang untuk tetap kuat menghadapi cobaan hidup. (c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi