Mengenal Tradisi Manis Seusai Ibadah Imlek
Berharap Berkah pada Ronde dan Misoa
Ada tradisi menyantap dua kuliner yang seperti wajib seusai ibadah Imlek dan doa dipanjatkan. Ya, santapan ini namanya ronde dan misoa, yang memiliki makna mendalam.
MEGA SILVIA,
Glagahwero - Radar Jember
AROMA jahe dan manis gula menyeruak di Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Pay Lien San seusai pelaksanaan ibadah Imlek. Di tengah ramainya umat berkumpul, semangkuk ronde hangat dan misoa panjang menjadi hidangan wajib yang tak terpisahkan. Lebih dari sekadar makanan, kedua hidangan ini menyimpan makna mendalam tentang harapan, kebersamaan, dan doa restu untuk tahun yang baru.
Ronde, bola-bola ketan kenyal berisi kacang tanah yang berpadu dengan kuah jahe yang menghangatkan, menjadi simbol kehangatan keluarga dan persatuan. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan dan harapan akan kehidupan yang manis pada tahun mendatang. "Ronde itu juga untuk keberuntungan, keberkahan," ungkap Wakil Ketua TITD Pay Lien San Kanjeng Hendry.
Biasanya, ronde di TITD Pay Lien San, Desa Glagahwero, sudah dimasak sejak pagi. Namun, karena kesibukan masing-masing, ronde tahun ini dibuat seusai sembahyang Imlek. Tua dan muda kompak membuat bola-bola dan diisi kacang yang dicampur gula. Hingga disajikan dan disantap bersama.
Sementara itu, misoa, mi tipis dan panjang, menjadi representasi umur panjang, kesehatan, dan keberkahan. Tak heran jika menyantap misoa diharapkan dapat membawa umur panjang dan kebaikan bagi seluruh warga Tionghoa. Teksturnya lembut dan cara memasaknya penuh kehati-hatian.
Biasanya, misoa dimasak oleh orang tua yang sudah berpengalaman. Memperkirakan kematangannya harus presisi. Jika terlalu lama, bisa berujung menjadi bubur.
Misoa dimasak dengan campuran jamur dan bebas dari sajian olahan daging.
Semuanya menu vegan, karena pada perayaan Imlek tuan rumahnya adalah Dewi Kwan Im, yang juga vegan.
"Itu pun kalau misalnya ada daging, itu daging gluten. Jadi, emang daging yang imitasi," ujar spiritual umat Konghucu Jember itu.
Tradisi menyantap ronde dan misoa seusai ibadah Imlek bukan sekadar ritual kuliner. Namun, juga wujud syukur atas berkat yang telah diterima dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Di balik kelezatan rasanya, tersembunyi nilai-nilai luhur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mempererat tali persaudaraan dan memperkuat keyakinan akan datangnya kebaikan.
Pria asal Desa/Kecamatan Sukowono itu mengatakan, tradisi menyantap dua menu itu menjadi hal wajib setelah ibadah pembuka tahun baru Imlek. Ronde dan misoa adalah sajian yang tidak bisa dipisahkan di kelenteng satu-satunya di Jember itu. "
Setiap tahun itu harus ada dua makanan yang disajikan," katanya.
Nah, selain umat yang beribadah, ronde dan misoa itu disajikan kepada sejumlah tamu undangan, polisi. Bahkan sejumlah wartawan yang hadir juga ikut menyantapnya. Setelah itu, mereka pun bubar masing-masing dari tempat ibadah tersebut. (c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi