ROWOTAMTU, Radar Jember - Dampak penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sapi di Jember, cukup menjadi pukulan telak bagi masyarakat.
Terutama peternak dan pedagang sapi.
Pasalnya, serangan PMK tak hanya membuat harga sapi terjun, namun juga menurunkan omset dan daya beli sapi lesu di pasaran.
"Rusak harganya sekarang, ga berani bawa banyak, biasanya dua sampai tiga ekor, sekarang satu saja," ketus Yosi, pedagang sapi di pasar hewan Rowotamtu, Rambipuji.
Hal serupa diutarakan Fathur Rohman, pedagang sapi asal Kertosari, Pakusari. Ia juga terpaksa mengurangi stok sapi karena tidak ingin dirundung buntung.
"Khawatir sewaktu-waktu tambah rusak harganya, jadi ga berani nyetok banyak," akunya.
Sebagai informasi, pekan lalu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jember mencatat, 1.031 ekor ternak terinfeksi PMK, dan 78 diantaranya dilaporkan mati.
Meski sejumlah anggota dewan sempat menyerukan ditetapkannya status kejadian luar biasa (KLB), namun penutupan pasar hewan belum menjadi opsi pemerintah daerah. (mau)
Editor : M. Ainul Budi