AMBULU, Radar Jember – Pasangan suami istri (pasutri) Slamet, 57, dan Imroatul Jamila, 55, yang hanyut di Sungai Bengawan, bagian aliran Kali Mayang, Dusun Watukebo, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, sempat dilihat warga, Rabu (17/1) sore.
Pagi kemarin (16/1), jasad Jamila ditemukan warga. Sementara, suaminya masih dinyatakan hilang.
Jasad Imroatul ditemukan kali pertama oleh Herman, 54, warga Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Saat itu, Herman bersama Sarito dan Pak Wib. Korban ditemukan mengapung di tempat bersandarnya jukung, di sekitar Gunung Seroyo atau lebih dikenal Teluk Love, pukul 7.45, Kamis (16/5). Ketiganya kemudian berusaha menepikan jasad korban.
Jasad Imroatul masih lengkap dengan pakaian dan perhiasan seperti anting. Penemuan jasad korban itu kemudian dilaporkan kepada Tim SAR Rimba Laut, yang saat itu akan melakukan penyisiran bersama Kapolsek Ambulu AKP Latifa Andika dan anggotanya.
AKP Latifa menyebut, jasad korban ditemukan Herman dkk, saat ketiganya hendak menguras air di dalam jukung.
“Pagi itu memang sedang dilakukan pencarian dengan menyisir sungai. Ternyata ada warga yang melaporkan, ada mayat perempuan di sekitar tempat sandar jukung milik nelayan,” kata Latifa.
Jasad Imroatul selanjutnya dievakuasi ke kamar mayat Puskesmas Ambulu menggunakan mobil patroli polsek.
Setelah itu, tim masih melakukan penyisiran untuk mencari suami korban di sepanjang Kali Mayang.
“Mudah-mudahan jasad yang atas nama Slamet bisa ditemukan. Karena di sepanjang Sungai Bedadung banyak sampah kayu,” ucapnya.
Sempat Dikira Kayu Hanyut
MENURUT Tri Budi Setiawan, 30, pemilik warung di sekitar Gunung Seroyo Teluk Love, sekitar pukul 05.00 dirinya melihat arus sungai deras, karena pada saat bersamaan air laut surut.
Sampah-sampah, termasuk kayu, ikut hanyut sampai muara Sungai Bedadung.
Setengah jam kemudian, dia melihat ada benda seperti kayu hitam. Lantaran air sungai masih deras, jasad korban yang dikira kayu itu pun mengapung di sekitar jukung yang bersandar di dekat warung.
"Kebetulan ada Herman, nelayan yang hendak mengurus air dalam jukung, melihat jasad yang awalnya dikira boneka. Ternyata setelah didekati mayat. Pak Herman teriak minta bantuan memanggil warga lainnya," kata Budi.
Warga pun menghubungi anggota SAR Rimba Laut yang saat itu akan melakukan pencarian bersama polisi. Saat itu, jasad korban dievakuasi ke puskesmas. Kemudian, diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan. (jum/c2/nur)
Editor : Radar Digital