Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menengok Kebiasaan Ngopi yang Terus Membudaya di Ambulu Jember, Dijuluki Kecamatan 1001 Warung Kopi

Radar Digital • Jumat, 17 Januari 2025 | 20:41 WIB

 

PAHIT: Penyajian yang khas secangkir kopi di warkop Kecamatan Ambulu. (AZQAL/RJ)
PAHIT: Penyajian yang khas secangkir kopi di warkop Kecamatan Ambulu. (AZQAL/RJ)

Kecamatan Ambulu sudah memiliki julukan kecamatan 1001 warung kopi (warkop). Hal itu karena banyak sudut yang dipastikan selalu ada warkop. Didukung dengan budaya masyarakatnya yang gemar ngopi.

AZZQAL AZQIYA' ACHMAD, AMBULU, Radar Jember

DAERAH 1001 Warung Kopi. Julukan itu tersemat pada Kecamatan Ambulu, yang merupakan kecamatan ujung selatan Jember. Tak mengherankan memang jika dijuluki daerah 1001 Warung Kopi (Warkop).

Sebab, hampir di setiap sudut kecamatan yang dihuni mayoritas masyarakat Jawa itu pasti ada warkop. Jaraknya berdekatan, berdampingan, dan saling berhadapan.

Menikmati secangkir kopi di warkop-warkop Ambulu dijamin tak menguras isi dompet. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 3 ribu per gelas untuk dapat mencicipi nikmatnya kopi warga Ambulu. Uniknya, hampir semua penyajian kopi di Ambulu menggunakan cangkir kopi era 80-an. Jarang yang menggunakan gelas.

Bentuknya mungil, ada tutupnya, bermotif bunga, dan takarannya untuk menikmati kopi sangat pas.

Selain menjamur warkop, bisa dibilang kebiasaan minum kopi di warung kopi sudah menjadi budaya keseharian masyarakat Ambulu. Muda, dewasa, hingga tua berkumpul jadi satu di setiap warkop langganannya.

Menikmati secangkir kopi sembari ngobrol ke sana kemari.

Kopi memang pahit, tapi tetap bisa dinikmati. Kenikmatan minum kopi di warkop bagi penikmatnya memang bisa menghadirkan sensasi tak terkira.

Namun, menyeruput kopi di warkop tidaklah sama rasanya dengan minum di rumah.

Ada suasana berbeda yang bisa dirasakan. Warkop menghadirkan nuansa dan iklim yang berbeda. Karena mampu memberikan warna dan menghadirkan persaudaraan, saling mengenal, dapat berinteraksi, juga menjadi baik karena ada tren positif, yaitu silaturahmi.

Budayawan sekaligus sejarawan asal Kecamatan Ambulu, Doni Pramudyo, menyebutkan, budaya ngopi di Ambulu tak bisa lepas dari budaya Jawa.

Ngopi menjadi sebuah kegiatan sosial yang lebih dari sekadar aktivitas minum kopi.

"Ngopi menjadi semacam ritual sosial yang memperkuat ikatan dan memberikan ruang untuk kontemplasi pribadi," terangnya.

Setiap kerumunan di warung kopi itu ada banyak cerita. Ada banyak pelangi, atau bahkan harta karun yang terungkap.

"Mereka para penikmat kopi saling berdiskusi untuk satu visi dan misi diselingi manis pahitnya secangkir kopi yang menghias setiap meja di warkop itu," imbuhnya.

Andre Firmansyah, warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, mengaku, dalam sehari ia bisa sampai tiga kali nongkrong di warkop langganannya di sekitar Pasar Sumberejo. Menurutnya, hal itu sudah biasa di masyarakat setempat.

"Biasanya sih pagi. Lalu siang atau sore dan malam hari. Sama teman-teman, ngumpul, diskusi banyak hal. Senang aja ngopi di warkop ini, rame," ungkapnya.

Baginya, tidak ke warkop sehari saja seperti ada sesuatu yang hilang. Karena itu, dia setiap hari hampir bisa dipastikan meluangkan waktu untuk minum kopi di warkop.

"Setiap hari tak pernah kelewat minum kopi di warkop," pungkasnya. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #warung kopi #Kopi #ambulu