Radar Jember- Stasiun Panarukan Situbondo pernah menjadi stasiun yang ramai pada masanya. Meskipun sampai sekarang stasiun itu sudah berhenti beroperasi semenjak tahun 2004.
Pertama kali Stasiun Panarukan dibuka setelah selesainya jalur Kalisat-Panarukan pada 1 Oktober 1897.
Saat masih beroperasi seperti halnya stasiun-stasiun sekarang yang masih eksis, Stasiun Panarukan menjadi transportasi penting bagi masyarakat sekitar.
Seiring dengan berkemabangnya transportasi publik lainnya, Stasiun Panarukan kehilangan pamornya, dan stasiun ini sudah mulai ditinggalkan karena sarana prasarana yang sudah mulai berumur. Pada akhirnya stasiun ini berhenti beroperasi sampai saat ini.
Walaupun sudah berhenti beroperasi, Stasiun Panarukan sudah menjadi warisan perkeretaapian di Indonesia.
Jalur kereta api Panarukan – Kalisat dahulu dibangun untuk mendukung transportasi dan distribusi hasil bumi, terutama gula, dari daerah Situbondo dan sekitarnya ke pelabuhan di Panarukan dan kota-kota lainnya.
Jalur ini memfasilitasi pengangkutan barang dari pabrik-pabrik gula di wilayah tersebut ke pelabuhan untuk ekspor atau ke pasar domestik.
Selain itu, jalur ini juga digunakan untuk mengangkut penumpang, memberikan akses transportasi yang lebih mudah bagi masyarakat di daerah pedesaan menuju kota-kota besar seperti Jember.
Terbesit kabar yang sudah dari dulu ada sampai redup kembali, dan akhir tahun kemarin kabar tentang reaktivasi ini kembali terdengar.
Menurut Humas Balai Teknik Perkeretaapian Kelas 1 Surabaya, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Alvaviega Septian Pravangasta, sudah ada rencanannya, dan masuk ke dalam rencana pembangunan jangka menengah.
"Kementerian Perhubungan juga sudah mengajukan ke RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) untuk 2025 sampai 2029 dan juga telah diatur di Perpres nomor 80 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan Jawa Timur dan Lingkar Ijen," ungkapnya.
Editor : Radar Digital