Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sepi Seperti Kuburan, Potret Pasar di Jember yang Tak Diminati Warga Tersisa Enam Pedagang

Alvioniza • Rabu, 15 Januari 2025 | 16:50 WIB

 

TAK BERPENGHUNI: Bangunan Pasar Petung, di Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, kian memprihatinkan dan mulai banyak kerusakan. MAULANA/RADAR JEMBER
TAK BERPENGHUNI: Bangunan Pasar Petung, di Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, kian memprihatinkan dan mulai banyak kerusakan. MAULANA/RADAR JEMBER

Sejak ditinggal pedagang, Pasar Petung kini mirip bangunan tak bertuan. Tampak megah dari luar, tapi kosong tak berpenghuni. Padahal enam tahun lalu, pasar ini menjadi salah satu poros perekonomian warga. 

JEMBER, RADARJEMBER - Pintu rolling door itu masih berjejer rapi. Membentang selebar bangunan pasar. Kondisinya bagus, catnya juga utuh. Seperti belum pernah dijamah atau digunakan.

Tak hanya pintu, dinding-dinding di sisi kanan dan kirinya juga terlihat masih kokoh. Hanya diselimuti oleh sawang atau jaring laba-laba. Bak bangunan yang lama tak berpenghuni. Begitu pula dengan besi tiang penyangga yang mulai berkarat.

Sepintas, tampilan fisik dari depan, Pasar Petung ini terlihat bagus. Begitu memasuki bagian dalam, justru kosong melompong tak berpenghuni.

Di bagian dalam, kerusakan justru banyak terjadi di berbagai sudut bangunan. Mulai dari asbes yang mulai lepas, pintu-pintu lapak pasar yang mulai copot dan hilang, musala yang kotor, hingga beberapa atap genting yang sudah mulai berjatuhan.

Rumput liar yang menjulang tinggi kian menambah kesan bangunan milik pemda ini seperti tak bertuan.

Padahal, pasar ini dulunya direnovasi pada akhir tahun 2019 lalu dengan menelan biaya yang tidak sedikit, mencapai Rp 5,5 miliar.

Meski dibangun dengan biaya cukup besar, setelah rampung, proyek pemerintah ini malah tidak diminati masyarakat.

Justru mereka banyak yang berhenti dan berpindah ke pasar lain di Kecamatan Bangsalsari serta Rambipuji.

"Tidak ada yang menempati. Siapa yang mau menempati? Jadi, ya, sepi seperti ini," kata Erwin, pedagang perancangan di depan pasar tersebut.

Bu Erwin, sapaan akrabnya, masih ingat betul saat pasar belum direnovasi. Ketika itu masih ramai aktivitas pedagang dan pembeli.

Lokasinya yang cukup strategis berada di pinggir jalan utama, membuat pasar ini juga menjadi jujukan pengepul atau tengkulak dari berbagai daerah.

Bahkan saat itu, para pedagang pasar dulunya kompak menggelar pengajian rutin. Mirip seperti ibu-ibu muslimatan.

"Iya, dulu masih banyak pedagang itu sampai ada pengajian, saat malam, seminggu sekali," kenangnya.

Erwin merupakan salah satu dari enam orang pedagang Pasar Petung Bangsalsari yang masih bertahan hingga kini.

Itu pun, ia memilih berjualan di depan pasar, menghadap langsung ke arah jalan raya. Imbas sepinya aktivitas pasar itu dirasakan betul oleh dia dan pedagang lainnya.

Penghasilan mereka menyusut karena banyak pembeli yang kabur lantaran pasar sepi.

"Kalau pasarnya cuma enam orang ini, sedikit yang membeli. Mulai dulu banyak yang sudah berhenti pedagangnya. Ada sebagian yang pindah," kata perempuan penjual bumbu dapur ini, sambil menujukan lapak pedagang lainnya yang masih bertahan.

Tepat di sebelah Erwin, ada Yuli, pedagang yang juga tinggal tak jauh dari lokasi pasar. Ia mengaku merasakan betul dampak dari renovasi pasar seusai bersolek itu.

"Sebenarnya disayangkan. Seumpama dulu yang diperbaiki hanya sisi baratnya saja, mungkin masih ramai sekarang, karena aksesnya lebih lebar," keluhnya.

Yuli juga pedagang perancangan yang menjual bumbu dapur dan beberapa jenis ikan. Ia memilih bertahan berjualan di situ karena tidak punya pilihan lain.

"Mau jualan di dalam pasar ga ada orang. Ya, sudah, jualan di luar saja, bareng Buk Erwin, dan beberapa pedagang yang tersisa ini," imbuh dia, disusul tawa.

Selain karena tak diminati pedagang, informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, banyak faktor yang melatarbelakangi Pasar Petung ini bagai hidup segan mati tak mau. Salah satunya soal akses.

Sebelum dibangun, pasar ini terdapat akses dari berbagai sisi. Namun, setelah renovasi, akses utama menghadap timur.

Berbarengan dengan akses masuk ke perumahan warga dan ke arah sekolah dasar (SD) yang persis di selatan pasar.

Akses masuk yang dirasa kurang strategis itu sempat menyulut konflik antara pedagang pasar dengan warga sekitar lantaran akses yang padat.

Hal itu yang kemudian membuat pedagang tidak betah. Kondisi itu diperparah dengan badai pandemi Covid-19 yang menerpa tahun 2020 lalu, yang juga membuat aktivitas pedagang di pasar ini berangsur-angsur surut. Hingga semua pedagang angkat kaki dari pasar pelat merah itu. Saat ini, hanya tersisa enam pedagang pasar yang masih bertahan dan memilih membuka lapak di depan pasar. (c2/nur)

 

Editor : Alvioniza
#Jember #sepi #pasar rakyat